Thursday, March 13, 2008

Ayat-Ayat Cinta

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Sudah terlalu banyak yang membahas film ini. Penuh dengan pro-kontra yang kemudian membuat film ini menjadi makin hangat di awal tahun ini. Saluut!!

Waktu nonton film ini gua berusaha pasang mood "serius", karena gua berfikir film ini akan penuh dengan "wejangan" dan pesan-pesan agamis. Gua gak berani bilang film ini adalah film dakwah. Untuk yang satu ini gua rasa cuma Hanung yang bisa jawab.

Tentang Film

"Ayat-Ayat Cinta" (AAC) adalah film saduran dari novel terkenal. Tentu ini merupakan PR besar buat siapa pun sutradara yang akan mem-film-kan. Tak lepas pula buat Hanung. Kita tahu Hanung punya pengalaman banyak buat film yang diadaptasi dari novel. Kebetulan saja, saya belum baca novel heboh ini. Banyak yang bilang ke gua kalo novel ini dahsyat sekali, sayang gua bukan pembaca novel sejati hehehe...

Gua gak akan meresume cerita AAC, pasti kalian bosen bacanya karena hampir di semua milis dan blog sudah diuraikan secara detil. Begitu pun goofs yang dibahas, selalu sama mengkritik bagaimana boom microphone bisa bocor, set yang tidak Cairo, Mesir nampak terlalu kumuh dll dll. Sudahlah.. itu kalian sudah tahu semua.

Bagi gua, ketika gua selesai menonton film AAC. Satu hal yang langsung membuat kepala gua bergeleng dan berdecak kagum adalah : novel ini kayaknya benar-benar dahsyat dan hebat. Film yang dibuat Hanung sangat tertolong dari kekuatan ceritanya. Kekuatan karakter dan personifikasi yang kental dan detil. Gua gak mau terjebak dengan casting orang Indonesia yang "di-mesir-kan". Gua berusaha melihat Surya Saputra itu sebagai sosok orang Turky yang kaya, begitu pun casting lainnya. Sebelum gua masuk bioskop, gua pikir film ini akan banyak menampilkan orang-orang Mesir asli, ternyata saya salah.. tapi gak pa pa.

Seperti yang gua tulis barusan, film ini sangat-sangat tertolong oleh cerita yang mutakhir. Secara film buat gua biasa aja. Ada shot suasana padang pasir dan piramid bagus sekali, itu keren.. ya jelas aja keren.. karena lokasi dan suasananya pun sudah keren. Tidak musti Hanung pun akan tetap keren. Tapi gua justru salut dengan bagaimana cara Hanung mengemas film ini menjadi sebuah kesatuan yang sebetulnya banyak sekali keterbatasan. Ini nilai lebih buat film Indonesia yang setting ceritanya di luar negeri.

Tentang Cerita

Ada banyak komentar penonton yang benci ke film ini karena kisahnya seperti mendukung kampanye poligami. Gua rasa bagi yang punya pendapat seperti ini, mendingan nonton lagi dari awal deh. Yang makin gua kecewa, saat gua menonton diskusi Hanung dengan Eric Sasono (pengamat film) di SCTV, mereka pun nampak terjebak dalam pembahasan pro - kontra dengan poligami.

Bagi gua, cerita dari film AAC ini mempunyai bobot besar dan sangat beresiko. Karena basic dari cerita cinta film ini adalah "membenturkan" ajaran-ajaran dan cara pandang ISLAM dalam melihat : wanita, jodoh, cinta, perkawinan, dan poligami. Semua ini tidak bisa dipisah satu dan lainnya. Karena semua berkaitan dalam cerita si Fachri ini. Kalau dipisah-pisah jadinya ya persepsi yang salah itu. Seolah-olah si Fahri dan Aisyah mengajarkan penonton untuk "mari poligami". Ini gak bener.

AAC secara baik sekali membeberkan konsep perkawinan yang menjunjung asas : bebet, bibit, bobot. Ini sangat Indonesia sekali.. makanya pas banget.

1. Bebet diwakili oleh Maria
2. Bibit diwakili oleh anaknya guru-nya Fachri
3. Bobot diwakili oleh Aisyah

Dalam AAC ketiga konsep tadi diwakili oleh tiga karakter yang sama kuat. Saat Fachry harus terjebak dalam posisi demikian, apa yang musti dilakukan? Mengikuti syariah? Ya.. karena dia sarjana Al-Azhar yang taat dengan ajaran Islam. Bagaimana Maria yang dengan modal cinta yang tulus dan sudah saling mengenal jauh daripada kedua saingannya, harus BUNTU karena perbedaan agama.

Lalu bagaimana seorang anaknya ustadz (Melanie Putria, karakternya lupa namanya), yang merupakan karakter yang secara bibit dan soleha sudah tidak perlu diperdebatkan lagi.

Terakhir, bagaimana seorang Aisyah yang kaya raya, baik, tapi belum lihat wajahnya secara menyeluruh dan musti melakukan Ta'aruf. Gua suka bagian dimana Fachry masih harus diskusi apa itu Ta'aruf. Ini penting untuk menjelaskan ke penonton.

Dari sanalah cerita ini akan dibawa. Jodoh.. apa sih jodoh? Bagaimana cara fachry menjelaskan ke ibunya tentang jodoh, sangat sederhana dan pas. Lalu bagaimana Fachry menjelaskan jodoh ke Maria lewat analogi sungai Nil dan Mesir. Apa itu cinta? Maria bisa dengan mudah menggambarkan itu lewat dairy-nya. Bagaimana Melanie kagum dengan Fachry dst. Lantas bagaimana dengan perkawinan? Aisyah menggambarkan ini dengan baik pula. Bagaimana suami, bagaimana isteri, dan bagaimana sebuah pasangan menjalani sebuah syariah agama.

Kalaupun pada akhirnya kisah ini memasuki babak poligami. Babak ini merupakan "benturan" atau konflik yang sangat bagus. Pro-kontra penonton merupakan sebuah hal yang sudah bisa diprediksi. Alasan Aisyah mengijinkan Fachry poligami bukan tidak beralasan, tidak konyol, dan sesuai dengan syariah. Bagaimana Fachry menghadapi sebuah pilihan poligami pun sangat indah dijabarkannya. Bukan karena hasrat sex semata. Ini tidak mudah tapi juga tidak musti rumit.

Pada akhirnya pun Fachry tetap bingung dan mempertanyakan akan sulitnya berlaku adil dalam poligami. Adil seperti apa? itu pun tidak semudah yg kita bayangkan. Kalau penonton bisa lebih terbuka melihat konflik yang dibangun ini maka mereka akan sadar bahwa poligami merupakan sebuah pilihan yang semestinya tidak hadir di depan mereka secara tiba-tiba.

Tentang Konyol

Ya.. ini hal konyol yang jarang diangkat penonton. Sejujurnya sorry banget gua gak suka dengan karakter Dennis dalam AAC. Mengapa harus ada dia? Mengapa harus ada "joke" dengan tingkah yang mirip badut? Ada yang bisa bantu gua mendapatkan alasannya?

Tentang Penulis Novel

Sayang ya dari sekian banyak penonton yang membahas film ini, tapi sedikit sekali yang menjelaskan siapa penulis novel hebat ini. Apa dia orang Indonesia? atau orang Mesir? Latar belakang dia itu seperti apa? Apa ia kuliah di Al-Azhar?

Gue gak banyak novelnya sih, jadi pengetahuan gua akan cerita ini secara keseluruhan pun jadi sempit. Tapi entah kenapa gua yakin, yakin sekali kalau cerita asli novel ini sangatlah hebat. Salut buat novelnya juga!

Foto Habiburrahman El Shirazy dari Google

Wednesday, January 2, 2008

Analisa Degradasi Musik Indonesia? (Market Oriented)

Suatu ketika, iPod di mobil saya habis battere-nya..so terpaksa puter radio saja. Saat browsing channel saya baru tersadar betapa musik dan lagu band Indonesia menguasai banyak frekwensi di radio-radio sekarang. Takjub! Tapi... ketika saya dengarkan lagi.. koq lagunya mirip-mirip ya?






Bibit Musik Lokal

Sekilas mengingat betapa industri musik di Indonesia ini sudah mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Musisi sudah mapan dan mampu di cap sebagai sebuah profesi dari kesenimanan. Hal ini bukan lah sebuah "hadiah" yang turun dari langit begitu saja melainkan buah dari hasil kerja keras para insan musik di negara ini selama puluhan tahun.

Saat saya masih SD, saya memasang poster-poster band asing di kamar sempit saya. Ada Queen, Genesis, The Police, Status Quo, dll. Buku catatan sekolah pun gak kalah kotor dengan stiker-stiker murahan bertuliskan Black Sabbath, The Doors, dll. Juga coretan-coretan pylox di gang-gang sempit. Saat itu musik asing meraja di Indonesia, tak heran jika semua kaset yang beredar pun ternyata semuanya BAJAKAN. Tak sedikit nama labels yang masih saya ingat, Pramaqua, Aquarius, Blackboard, Atlantic Records, Yes, Team Records. dll.

Bagaimana kondisi musik Indonesia saat itu? Wah jauh dari yang nampak sekarang. Musik Indonesia hanya mampu diterima sekelas dangdut. Sementara yang pop, hanya segelintir musisi yang mampu menembus pasar, sebutlah God Bless, Iwan Fals, Doel Sumbang, Fariz RM, Ikang Fawzi dll. Semua berjuang dan mempertahankan "selera lokal" di negeri ini. Tak kalah pula upaya Radio Prambors membangun musik lokal dengan LCLR (Lomba Cipta Lagu Remaja), dari situlah muncul istilah pop-kreatif.

Musik Pop

Istilah pop-kreatif ini saya rasa hanya ada di Indonesia. Mengapa? karena pada masa itu (80-an) istilah musik pop itu adalah musuh bagi anak-anak remaja saat itu. Musik pop dikuasai peredarannya oleh raksasa labels JK Records. Bermunculanlah penyanyi-penyayi solo yang menyanyikan lagu mendayu-dayu. Sebutlah Nia Daniati, Richie Ricardo, Maya Rumantir, dlsb. Saking eksisnya semua penyanyi itu masuk ke dalam sebutan JK Artist.

Menjadi penyayi merupakan sebuah perjuangan panjang dan melelahkan. Rasanya sulit sekali muncul di pasar musik Indonesia jika tidak membawakan lagu-lagu pop gaya JK Records. Saking meledaknya lagu-lagu sejenis hingga pasar sadar bahwa lagu-lagu yang beredar tersebut sudah mencapai titik jenuh, hingga Menter Penerangan saat itu (Harmoko) mengeluarkan edaran untuk stop membuat "LAGU CENGENG". Istilah ini muncul karena memang semua lagu yang beredar saat itu cengeng semua, Sedih karena diputuskan pacar, sedih karena cinta ditolak, dan seterusnya.

Dalam suasana kejenuhan tersebutlah para sekelompok anak muda berusaha lepas dari kungkungan selera labels yang cuma menyuguhkan "selera pasar". Sebutlah Gank Pegangsaan, lalu Jakarta Rhytm Section, GSP, dll. Bahkan ada beberapa yang "cuek" menyajikan jazz seperti Krakatau, Emerald dll. Semua hadir dan muncul dalam sebuah terobosan yang sangat signifikan.

Masa Transisi Pasar Anak Muda

Memasuki akhir tahun 80-an, musik Indonesia dikuasai oleh musik-musik radikal, yaitu gaya Iwan Fals. Kondisi politik saat itu menjadikan Iwan Fals sebagai tokoh corong suara rakyat. Luapan emosi massa sangat terasa saat mengalunkan lagu-lagu Bang Iwan, saat itulah mulai terasa kehangatan musik Indonesia di negeri sendiri. Bendera, spanduk, baliho, banner, dan banyak atribut lainnya.. semua bertuliskan FALS! FALS! Belum lagi komunitas-komunitas Fals yang bermunculan di banyak gang-gang sempit, daerah kumuh, dan pelosok-pelosok. Megah rasanya melihat kehadiran Bang Iwan dalam sebuah pentas panggung.

Lagu-lagu cengeng, mulai ditinggalkan. Lagu jenis balad lebih diterima. Saat bersamaan bermunculan pula band-band anak muda yang lebih berselera. God Bless muncul dengan menghadirkan gitaris ciamik Eet Syahranie (yang isunya pun dia muridnya Paul Gilberts). God Bless seolah-olah menjadi dukun dahsyat yang menghidupkan kembali mayat "rock" di Indonesia. Kalau musik pop mendapat nafas baru dari LCLR Prambors, maka musik rock mendapatkan nafas segar dari Log Zhellebor, seorang promotor musik rock kenamaan di negeri ini. Lewat labels LOGISS, Oom Log menelurkan banyak sekali band-band rock. Di saat itulah trend pentas panggung band makin laris.

Kehebohan ini makin menjadi semarak ketika Iwan Fals bersama Setiawan Djody meluncurkan group SWAMI dan KANTATA TAKWA. Diikuti dengan penampilan panggung mereka yang super dahsyat! Dengan panggung dan tata lampu kelas internasional, pentas mereka dapat dikatakan sebagai titik kebangkitan musik lokal. Atraksi lampunya pun sudah dahsyat sekali, berikut atraksi laser.

Masa-masa ini adalah catatan awal kebangkitan musik Indonesia. Anak-anak sekolah giat mampir ke studio-studio kecil untuk latihan band membawakan lagu-lagu lokal. Sebut saja lagu andalan mereka : "Semut-Semut Hitam" - God Bless, "Bento" - Swami, "Rock Bergema"- Roxx, dll.

Era MTV

Perjalanan musik Indonesia kian hari kian menancapkan cakarnya ke tanah air. Kehadiran musik Indonesia ini makin diperkuat dengan hadirnya MTV di ANTV. Saat itu lah musik Indonesia mulai masuk ke babak "professional". Musik Indonesia mulai dibiasakan dengan videoklip sebagai materi "marketing"-nya. Kebangkitan musik Indonesia pun ditandai dengan masuknya berbagai labels international, seperti Universal Music, Warner Music, EMI, Sony, dan BMG (dulu belum bergabung). Sejak itulah musik Indonesia mulai bersentuhan dengan prinsip dagang.

Sebagai band, mereka harus berfikir penuh strategi pemasaran. Pembuatan videoklip menjadi sebuah keharusan. Di saat itulah muncul berbagai production house yang khusus menelurkan videoklip band lokal. BDI, Avantgarde, Rexinema menguasai pasar videoklip lokal. Sutradara Rizal Mantovani dan Dimas Jay pun laris manis menguasai pasar videoklip.

MTV men-support dengan memunculkan acara MTV Ampuh (Ajang Musik Pribumi Sepuluh), lewat acara tersebut makin terasa musik-musik Indonesia makin punya kelas di pasaran lokal. DEWA 19 merupakan band yang menjadi benchmark kesuksesan saat itu. Penghargaan demi penghargaan membuktikan bahwa musik Indonesia sudah punya 'value'. MTV pun menganugerahkan Dewa 19 sebagai band terbaiknya. Istilah VJ (Video-Discjockey) pun marak di kalangan anak muda, MTV menjadi sebuah ikon anak muda gaul dan keren. MTV pun memberikan timbal balik dengan memberi sebutan "anak nongkrong" bagi penonton setia MTV. Anak muda dikenalkan dengan VJ yang keren.. Jamie Aditya, Sarah Sechan, Nadya Hutagalung, Donita, dan RAHUL KANA! :). Belum lagi anak muda dikenalkan dengan istilah bumper. MTV selalu memunculkan bumper-bumper unik yang khas anak muda. Saat itulah anak muda makin "liar" dan berani untuk unjuk gigi. Belum lagi media support lainnya seperti majalah dan radio.

Bisnis Musik

Masukalah musik Indonesia ke babak professionalisme. Musisi harus mampu menjadi businessman dalam menganalisa lagu-lagu yang akan diedarkan. Belum lagi strategi pemasaran dan distribusi. Pertimbangan kualitas musik dan sound pun jadi pertimbangan penting. Semua itu rela dibayar mahal demi sebuah profesionalisme. Profesi dalam industri musik ini pun makin berkembang. Ada music director, vocal coach, sound engineer, dll. Belum lagi dalam manajemen band itu sendiri, selain ada manager, ada road manager, ada stylist, ada tim media yang mengurus foto, video, dan web. Semua hidup sebagai sebuah profesionalisme bisnis.

Saat ini, ada berapa banyak musisi Indonesia yang kaya raya hidup bagai bintang dan rockstar? Rumah mewah, mobil sport, wanita, media, bahkan studio rekaman pribadi. Fans club, komunitas, tour, roadshow, dan lain sebagainya sudah menjadi keseharian. Ini merupakan sebuah titik puncak sebagai musisi di negeri sendiri.

Era Ring Back Tone

Penjualan musik di pasar lokal ternyata mampu menghidupkan profesi musisi. Pasar punya nilai tinggi dan musti menjadi pertimbangan strategi sebuah band. Belum lagi kemasan dan nama band yang mulai disikapi lebih berkonsep. Segitupun sudah digerogoti oleh barang bajakan. Bayangkan jika tanpa bajakan, mungkin royalti band bisa lebih dahsyat lagi.

Royalti penjualan CD dan kaset saat ini makin ditambah dengan royalti via RBT (Ring Back Tone) di beberapa mobile phone provider. Tidak heran jika royalti dari RBT ini mampu meraup keuntungan yang lebih besar dari CD dan kaset.

RBT, merupakan media baru pendistribusian musik di Indonesia. Di saat dunia sedang seru dengan MP3, iTunes, dan iPod, Indonesia justru sedang khusuk mengurus RBT. Penjualan lagu via handphone punya nilai yang sangat tinggi. Penjualan cara "ketengan" ini ternyata mampu mendongkrak penjualan album secara keseluruhan.

Market Oriented sebagai Pisau Bermata Ganda

Selama tahun 2004 - 2007 ini, RBT mulai merajai bisnis musik di Indonesia. Nilai jualnya sangat menggiurkan para pengusaha musik dan musisi. Ukuran ini menjadi tolok ukur nilai pasar di masyarakat. Penjualan CD, kaset dan RBT sudah valid dijadikan alat ukur kesuksesan band secara bisnis. Tak heran jika akhirnya musisi dan labels sepakat untuk menelurkan musik "berselera pasar". Pasar suka jenis lagu "mendayu" maka semua band harus bikin lagu jenis mendayu. Ketika memasuki bulan Ramadhan, tidak sedikit pula band-band menelurkan lagu religi. Saat itulah sebuah band berkarya atas kendali pasar (market driven). Strategi pemasaran produk pun diterapkan.

Yang uniknya lagi, konsep market driven ini memunculkan fenomena baru. Ketika sebuah labels punya nilai ukur jual yang berbeda dengan nilai ukur pasar. Ini terjadi pada KANGEN BAND. Saat itu mereka selalu gagal menjual lagu-lagu mereka ke labels, dengan alasan susah laku. Lantas lagu-lagu mereka bocor ke pembajak lagu dan kemudian terjual laris manis. Penjualan yang dahsyat ini membelalak mata pengusaha musik, kontan saja Kangen Band langsung di rekrut oleh Warner Music dan diperlakukan seperti band profesional. Cara yang terbalik ini sangat unik. Artinya pasar bajakan sudah bisa dijadikan ukuran laku tidaknya sebuah band di pasaran (ingat kisah Inul Daratista).

Bagaimana Kangen Band bisa dengan mudah diterima pasar? Mungkinkah jika dikatakan timing mereka saja yang pas? Kelahiran Kangen Band di pasar musik Indonesia itu adalah di saat pasar musik dengan gandrung dengan lagu mendayu "Kenangan Terindah"-nya SamSonS dan lagu-lagunya Ungu?

Jika diperhatikan, jenis lagu tersebut ternyata sedang digemari oleh pasar. Tak heran bermunculan lah band-band dan musisi baru yang melantunkan lagu-lagu berjenis sama. Nadanya nyaris sama.. chord-nya nyaris mirip.. temanya pun gitu-gitu aja.. belakangan saya sadar kalau saya gak bisa bedain antara lagu yang satu dengan lagu yang lain.

Kembali ke selera pasar, ada fenomena unik lainnya. Yaitu sebuah lagu bisa dengan mudah menjadi hits lewat bantuan SINETRON. Sebutlah Letto, yang penjualannya meledak beriringan dengan meledaknya sinetron yang menggunakan lagunya sebagai soundtrack. Kasus ini berbeda dengan Album HEART-ya Melly yang menelurkan album soundtrack ini khusus dibuat untuk film bertajuk sama "Heart".

Hal lain lagi adalah berubahnya "gaya" MTV sejak diambil alih oleh Group Media MNC. Dimana MTV makin hari makin menurun daya kreasi yang khas anak mudanya. Berkurangnya porsi penayangan videoklip di GlobalTV membuat para band mengurangi budget pembuatan videoklip karena dirasa kurang efektif. Apalagi cara marketing lainnya yang lebih efektif bisa dilakukan dengan cara join dengan sinetron tadi.

Bumper-bumper unik gaya MTV sudah mulai hilang, diganti dengan iklan-iklan REG SPASI dan SMS setiap jamnya. Belum lagi iklan murahan seperti alat pengecil perut, pembakar lemak, dan memperbesar payudara. Sangat jauh dari "ciri" dan "selera" MTV yang menyebut pemirsanya "anak nongkrong". Itu semua jauh dari gaya anak nongkrong. Belum lagi gaya VJ MTV yang makin hari makin "terpaksa" musti terlihat humor, asik dan cool. Yang terjadi malah kebalikannya. VJ Hunt MTV nampaknya sudah terlalu terpatok bahwa gaya VJ itu harus kocak seperti Jamie Aditya, liar seperti Sarah Sechan, atau cool gaya Nadya Hutagalung. Alhasil.. yang muncul adalah VJ dengan gaya "look-a-like" semua.

MTV sudah bukan lagi menyajikan gaya anak muda urban. Perlahan-lahan anak-anak muda urban makin mengurangi jatah "nongkrong"-nya di depan MTV. Berganti dengan anak-anak daerah. Tak heran jika belakangan gaya MTV saat ini lebih cocok menjadi tontonan anak muda di daerah-daerah. Apa ukurannya? liat saja siapa yang datang saat acara off-air MTV di gelar.

Penutup

Akankah ini pertanda masa degradasi kreasi musik Indonesia? Bagaimana para musisi harus menghadapi market driven yang sangat kuat ini? Apa yang menjadi pertimbangan para labels dalam mengatur porsi musik untuk diapresiasi dengan musik untuk komoditi?

Banyak musisi yang mulai melakukan konsep artist / band manajemen. Sebagai lembaga independen mereka mencoba melakukan sikap-sikap yang non-market driven. Selain itu scene musik indie di Indonesia nampaknya masih punya power bargaining yang sangat kuat. Jauh dari kendali labels apalagi pasar publik luas. Mereka punya pasar yang kecil namun loyal.

Hal lain adalah dengan adanya label-label kecil yang punya pasar sendiri (captive market) yang kuat sekali, yaitu AKSARA MUSIC. Label ini tetap berani dan bertahan menelurkan musik-musik dan band yang tidak "market oriented". Tak heran jika band-band dari label sejenis ini mampu menawarkan gaya dan jenis musik yang tidak pasaran. Tapi apakah bisa diterima di pasar umum? Saya rasa tidak.. karena itu tadi.. seleranya sudah beda.

Semoga scene musik indie di negara ini tetap hidup (walau oksigennya tidak nambah), semoga label-label kecil berkarakter makin tumbuh subur (walau cuma memanfaatkan ceruk pasar yang kecil), semoga para pengamat musik tetap mengingatkan musisi-musisi agar tidak terjebak dalam pusaran selera pasaran, dan semoga musisi-musisi Indonesia tidak cuma berkarya demi selera dan duit pasaran... tapi juga mampu memberikan nilai bagi khazanah musik di Indonesia.

Astaga... panjang amat!!
Selamat Tahun Baru 2008 MUSIK INDONESIA! :)

(Foto diambil dari http://aparatmati.multiply.com - Arian Seringai)


Tuesday, January 1, 2008

Iklan Molto "Negeri Kain" - versi Comfort Creme (UK)

Kaget setengah mati sama TVC Molto tentang "Negeri Kain". Mungkin saja gua salah.. yaitu kalo ternyata produk ini sama, antara Molto dan Comfort Creme, tapi kalau ternyata beda.. pihak yang musti diinterogasi adalah creative director advertisingnya. Tak lama.. Creative Director Ogilvy & Mather untuk produk Unilever memberikan konfirmasi bahwa produk tersebut sama, hanya beda nama brand-nya.

Mungkin teman2 ada yang udah lihat promonya di TV? Sering diputar di Trans7. Berikut adalah versi Comfort Creme (UK). Yang buat 3D-nya ini sebuah creative house di London  yang udah berhasil menelurkan banyak sekali 3D yang keren-keren, namanya Mill (www.mill.co.uk)

Ini iklan Comfort Creme-nya


Saturday, December 22, 2007

TransTV nyontek?? Gak heran

Dulu sekali.. ketika INSERT pertama muncul, gw kaget karena logo dan treatment nya mirip sekali dengan E! (channel gosip dan infotainment seleb Amerika), lantas sekarang cuma ganti warna aja menjadi biru.

Belakangan teman saya komplain karena tulisan joke di blog dia di copy buat naskah Extravaganza, yang setahu saya dulu pun sering menggunakan ide ide joke dari forward-an email kocak.

Eh tahunya.. belum lama teman sekantor saya menunjukkan sebuah game show Jepang yang kocak banget.. ternyata di jiplak abis juga. Nama acaranya "Ssst.. Usil Banget Deh" dengan host Bedu. Silakan tonton.. dan silakan samakan dengan acara aslinya versi jepang. Terasa deh.. mana yang orisinal dan mana yang nyontek

Segment lain:

Monday, October 29, 2007

Iklan PERTAMINA : untuk bangsa? untuk siapa?

Sejak kemunculan SPBU asing berjamur di Jakarta para pengemudi seperti menemukan hal baru dari kebiasaan mengisi bahan bakar mobil, yaitu isi angin dan air gratis juga kaca depan yang dibersihkan secara gratis. Belum lagi sapaan dan pesan menggunakan sabuk pengaman di saat kita akan meninggalkan SPBU.

PERTAMINA, sebagai penyuplai bahan bakar milik negara tentu tidak tinggal diam dalam menghadapi persaingan pasar SPBU ini. Langkah yang dilakukan pertama kali (herannya) adalah dengan membuat iklan TV tentang "pembaharuan" di dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap PERTAMINA. Ini jelas membuktikan bahwa PERTAMINA pun sadar akan kecilnya kepercayaan masyarakat atas kinerja PERTAMINA.

Yang mengherankan bagi saya adalah, semua iklan tersebut tidak diikuti dengan perubahan di lapangan. Padahal menurut saya iklan yang paling efektif adalah testimoni langsung dari masyarakat pengguna PERTAMINA. Masyarakat yang puas akan memberitahukannya kepada rekan-rekannya. Begitu pun ketika mereka kecewa mereka akan sebarkan pula. Sayangnya, pada kenyataannya komplain dan ketidak puasan masyarakat jauh lebih banyak daripada pujiannya. Hal ini membuktikan bahwa iklan PERTAMINA cuma membuang uang saja.

SHELL atau PETRONAS nampaknya tidak perlu membuang banyak uang untuk membuat iklan TV, sementara PERTAMINA giat dan gencar membuat banyak versi iklan TV. Bahkan ada satu versi yang menggunakan banyak bintang terkenal (gak mungkin gratisan kan).

Suatu saat saya geli melihat salah satu iklan TV PERTAMINA yang "menjual" nama bangsa. Bahwa dengan mengkonsumsi produk PERTAMINA maka akan ikut menguntungkan bangsa. Bagi saya ini cuma "bahasa manis gaya orde baru". Mengatasnamakan keuntungan bangsa padahal yang untung cuma segelintir pihak saja, aneh kan? Ini tipikal gaya iklan buatan pemerintah, semua dilihat dari satu sisi saja, tidak pernah berani untuk mencoba menilai dari sisi konsumen. Apa iya konsumen tidak peduli bangsa? apa iya dengan tidak membeli produk pertamina artinya tidak peduli bangsa? Bangsa yang mana ya?

Contoh lain yang mirip dengan iklan di atas adalah iklan PAJAK. Heran deh.. semua iklan pajak itu selalu dilihat dari sisi : masyarakat yang enggan membayar pajak.

Pernah gak mereka mau melihat dari sisi bercermin. Bahwa keraguan atau keengganan masyarakat itu bukan karena pelit atau tidak mau bayar akan tetapi karena ketidak percayaan masyarakat atas uang pajak yang dikeluarkan. Ketidak transparanan ini sudah berlangsung puluhan tahun sehingga sulit bagi masyarakat untuk serta merta percaya begitu saja.

Bagaimana kalau dirjen pajak bikin iklan buat pegawai nya sendiri aja? Misalnya.. "Mari tumbuhkan kepercayaan kepada masyarakat!" atau "Ingatlah..Gaji kita adalah amanat dan pemberian masyarakat" dst dst.

Nah.. begitupula dengan PERTAMINA, mending uangnya dipakai untuk mensejahterakan pegawai dan menumbuhkan kinerja yang lebih baik. Saya yakin jika service atau pelayanan memuaskan, pasar otomotasi akan datang koq.



Monday, October 22, 2007

Get Married

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Comedy
Sudah lama penasaran mau nonton film ini tapi baru berhasil kemarin nonton sendiri di Citos. Ternyata film ini menggemaskan sekali, menghibur, dan syarat dengan sindiran yang menurut saya bagus sekali.

Rasanya gw gak perlu ceritain rangkuman dari film ini, sebab sudah banyak sekali resensi cerita tentang film ini, so gw akan coba review dari sisi lain saja.

Sejak menonton Nagabonar Jadi 2, gw melihat bahwa film Indonesia sudah berani muncul dengan format komedi yang sarat dengan pesan dan kritik. Baik implisit maupun eksplisit. Get Married (GM), muncul dengan diawali dengan scene yang menjelaskan tentang kondisi negara ini yang sangat sarkasme, apa adanya, gamblang, dan penuh deskripsi yang karikatural.

Enam karakter utama, Nirina, Aming, Ringgo, Desta, dan cowok ganteng bakal kekasih Nirina (lupa namanya), mencoba membawa cerita ini dengan gaya yang sangat parodikal. Begitu pun dengan gaya Hanung dalam mengemas film Jomblo. Bedanya film ini terasa lebih mantap aja, mungkin Hanung sudah menemukan ramuan yang pas buat bumbu film jenis ini.

Nah.. yang saya suka dari mereka tadi adalah: Ringgo tampil bukan seperti format biasanya, yaitu selalu dengan tampang lugu, polos, tolol, dan selalu jadi bulan-bulanan cewek. Kali ini dia tampil lebih gagah, punya karisma (walaupun dodol) dan lebih bisa "mikir". Sementara Aming, yang selalu dikenal banci, kali ini tampil sebagai preman kampung yang sungguh mengangumkan. Gaya bahasanya liar, ceplas-ceplos, dan sangat kesehariain. Aming sangat mempunyai peran dalam menjaga alur ini menjadi segar. Lalu Desta, nah buat Desta yang tidak banyak berubah, dia nampak tampil seperti karakter apa adanya. Namun ternyata karakter ini lah yang menjadikan ketiga preman kampung ini menjadi klop dan pas, ibarat kopi 3in1, campuran ketigannya ini memang sudah yang paling pas. Tidak overlap, tidak bertabrakan, tidak saling ingin hebat sendiri, dan tidak sok asik.

Sayangnya untuk Nirina, gw masih melihat dia masih suka kecolongan untuk "pengen lucu". Karakter ini memang cirinya Nirina sejak jadi VJ-MTV, yaitu selalu pengen tampil / terlihat lucu, padahal ketika dia akting wajar dan apa adanya dengan keluguan biasa malah bisa jadi lebih lucu. Mungkin Nirina musti belajar hal ini dari Ringgo dan Aming, ketika ketidak biasaan yang ditampilkan justeru malah memberikan kelucuan dalam format lain, misalnya saat Aming marah-marah kepada kedua temannya. Penonton malah tertawa melihat Aming, karena memang tidak biasanya dia marah2 dan sok khotbah gitu.

Oh iya.. Jaja Miharja. Ya dia memang pemain panggung komedia betawi. Penampilannya sangat bersahaja, apa adanya dan bagus sekali. Saya gak habis pikir kalo Bang Jaja ternyata masih bisa tampil dengan sangat wajar dan natural. Gaya bicaranya pun sangat khas dan menunjukkan kepiawaian dia dalam berartikulasi drama. Meriam Belina (isteri Jaja) masih tampil akting.

Secara keseluruhan, film ini memang bagus. Cocok ditonton buat masyarakat Indonesia yang selalu haus dengan komedi. Hebatnya, komedi di sini mampu menyampaikan pesan-pesan yang harusnya merasuk ke hati dan pemikiran masyarakat Indonesia yang serba "brutal". Gw rasa ini semua karena skenario yang mantaf dari Musfar Yasin (penulis Nagabonar Jadi 2).

Nah yang gw bertanya-tanya dan menyayangkan adalah judulnya, mengapa harus dengan bahasa Inggris ya? "GET MARRIED". Padahal jika dibuat lebih Indonesia pun akan tetap bagus. Atau karena ada adegan "jangan kawin sama bule?" hehehe...

Satu lagi yang gw gemes dan gregetan adalah pernyataan "anak sultan" dan "anak raja". Bagi saya ini merupakan kunci atau kartu truf yang saya tunggu-tunggu di akhir cerita. Saya menjaga sekali untuk tidak menerka apa makna dari kata-kata tadi. Sayang hingga akhir cerita, ternyata tidak ada makna apa-apa. Padahal gw berharap akan ada sebuah "GONG!!" yang menjelaskan makna dari kata-kata tadi.. Tapi tetap saja film ini OK koq... hehehe..

Keren!!

Sunday, October 7, 2007

Tidak Ada Lagi Sejarah di Masa Depan

Dalam dunia politik, sejarah selalu saja pincang akurasinya. Ini terjadi di hampir semua negara termasuk Indonesia. Sejarah selalu berpihak kepada pemimpin yang berkuasa pada zaman itu.

Sejarah Buku Sejarah

Beberapa waktu lalu, gue sama barudak "The Statis" nongkrong lagi dan diskusi lagi tetang hal-hal absurd. Salah satunya adalah membahas kisah D.N.Aidit yang punya kisah hitam bagi bangsa ini. Pada masa PKI berjaya D.N.Aidit adalah tokoh nasionalis yang punya cita-cita mulia bagi bangsa ini (menurut versinya), akan tetapi Aidit adalah musuh besar versi Soeharto CS. Kehidupan Aidit dan keturunannya bisa dibilang musnah dari silsilah kewarganegaraan. Sejarah (pada masa itu) memberikan kontribusi kuat bahsa Aidit adalah setan yang berujud manusia, ia layak dibunuh.

Soeharto, menjadi pahlawan. Menyelamatkan bangsa ini dari kekejaman sebuah partai. Jika saja PKI tidak dihapuskan maka seolah-olah bangsa ini akan hancur lebur, benarkah demikian? Kemana kita musti mencari data dan informasi tersebut? Buku sejarahkah? Saat itu lah Sule mengemukakan kalimat yang gue tulis di awal tadi : "Sejarah selalu berpihak kepada rezim yang berkuasa pada zaman itu".

Sampai saat ini, kita (bangsa Indonesia) masih banyaak menyimpan rahasia yang tak pernah terpecahkan, atau dengan bahasa kerennya unsolved mistery. Misalnya : Supersemar, kematian Soekarno, kematian Ibu Tien, kematian Moenir dlsb. Semua data-data dan bukti yang berkaitan dengan misteri tadi mungkin sudah dimusnahkan atau terkubur bersama para tokoh-tokoh pemberontak pemerintahan rezim.

Sejarah ditulis sebagai sebuah bukti sepihak. Pihak yang berkuasa tentunya. Sejak Soeharto turun dari tahta kepresidenan, sedikit demi sedikit sudah banyak pihak-pihak yang mencoba membuka sejarah-sejarah lama yang dirasa melenceng dari kebenaran. Kebenaran dari sisi siapa? Maka munculah versi sejarah-sejarah baru. Salah satunya adalah catatan hitam PKI tadi.

Sejarah Versi Masyarakat

Ada hal menarik yang mencubit saya ketika saya mendapat buku Bandung masa lalu dari teman saya Ivan. Dimana di dalam buku tersebut ada banyak foto-foto masa lalu di Bandung. Semua direkan dalam foto hitam-putih. Ada beberapa foto yang sudah (bahkan sering) saya lihat di buku-buku sejarah tapi tidak sedikit pula foto-foto yang unik dan baru saya lihat.

Dari situ kita bisa tarik kesimpulan bahwa sejarah akan lebih otentik jika dilengkapi foto apalagi film. Karena dengan foto atau film yang terdokumentasi maka suasana dan kejadian saat sejarah itu terjadi dapat hadir lebih detil. Tidak heran jika kejadian film dokumentasi ini sempat heboh gara-gara seorang (yang konon ngaku sebagai) pakar multimedia berinisial RY SRY, naik daun atas penemuan film dokumentasi tentang lagu Indonesia Raya. Ini membuktikan bahwa film atau foto dokumenter sangat diyakini kesohihannya.

Nah.. sekarang kita kembali ke masa kini. Dimana era foto dan video sudah bukan lagi barang langka. Kejadian-kejadian sudah bisa direkam dengan sangat mudah dan sederhana. Teknis dokumentasi sudah bukan barang istimewa lembaga kenegaraan. Anak SMP pun sudah bisa mendokumentasikan kisah cintanya dengan gadis sekelasnya. Jika si gadis ini dewasa kelak maka ia tidak akan bisa berbohong karena si cowok punya bukti otentiknya.

Beberapa waktu lalu, balap mobil F1 sempat dikejutkan oleh sebuah video tayangan di YouTube, bahwa sang juara Lois Hamilton dianggap melakukan kesalahan yang fatal yang bisa jadi akan kena sangsi hukuman. Hasil video tersebut tak sengaja direkam dengan handphone oleh seorang penonton di tribun. Dari hasil rekaman tersebut pihak FIA akhirnya melakukan penyidikan.

Ini merupakan sebuah contoh betapa masyarakat saat ini sudah bisa dengan mudahnya menjadi bagian dari saksi sejarah. Ingatkah kejadian tsunami di Aceh? Bagaimana seorang gadis berhasil merekam kejadian alam nan dashyat tersebut hingga hasil rekamannya langsung dijadikan bukti otentik dan ditayangkan di hampir negara di seluruh dunia. Kelak, ketika bencana alam itu sudah menjadi sejarah, maka video tersebut tentu akan menjadi dokumenter yang hebat.

Selain video, yaitu foto. Betapa banyak saat ini sudah tersimpan foto-foto otentik dari berbagai kegiatan di seluruh dunia yang tersimpan di internet. Semua sudah menjadi bagian dari keseharian manusia moderen. Semua manusia sudah mampu menjadi reporter dan fotografer liputan berita. Hebatnya.. semua foto dan berita tersebut mampu muncul tanpa sensor, etika, bahkan norma-norma. Semua tampil polos, jujur, dan apa adanya. Sejak itu pula lah kita sebagai penikmat berita-berita dari blog dan email harus mampu menyaring dan menahan diri. Salah-salah kita bisa menjadi paranoid dengan semua berita-berita yang tidak jelas kebenarannya tersebut.

Bukti Sejarah Masa Depan

Sekarang coba kita merenung dan membayangkan sebentar aja, bagaimana dan apa yang terjadi dengan buku-buku sejarah di masa depan? Apakah ia akan mampu berpihak kepada pemerintah atau partai politik yang berkuasa? Sudah tidak ada lagi berita-berita sepihak versi pemerintah.

Batasan media berita pun sudah bukan menjadi kekuasaan pihak pemberitaan saja. Berita bisa tersebar dengan mudah secara sporadis, baik lewat email, blog, atau sms. Berapa kali kita mendengar bahwa seseorang terbukti bersalah ketika ditemukan bukti yang bocor dari sms. Masih mungkinkah ada rekayasa berita?

Nampaknya di masa depan kelak akan banyak sekali kantor berita kecil partikelir kelas rumahan. Yang mampu menyajikan foto-foto dan video otentik berbagai kejadian yang sulit diperoleh oleh kantor-kantor berita besar. Bagaimana ? tertarik jadi reporter lepasan?