Tuesday, April 8, 2008

Indonesia Idle

Setelah membaca status teman saya (Intan), rasanya judul ini merupakan sebuah tagline yang menyindir sebuah kondisi bangsa kita saat ini.

1. Hidup Miskin di Negara Kaya

Sejak kita sekolah dasar kita tahu bahwa negara kita adalah negara yang kaya. Kaya akan luas wilayahnya, kaya akan sumber daya alamnya, perkebunan, tanah, laut, budaya, dan manusianya. Entah ini disadari atau tidak kenyataannya negara ini punya potensi kekayaan yang sangat bernilai.

Saya pernah mencoba membayangkan salah satu kekayaan negara ini yaitu saat teman saya (Hilman) bekerja di Freeport. Sebuah perusahaan tambang tembaga yang bisa kaya raya hanya karena menambang tembaga di Papua. Di Papua sana, ladang tembaga dan emas itu bukan digali di bawah tanah karena emas dan tembaga itu menyembul ke permukaan tanah berbentuk gunung! Gunung ini lah yang dikerok oleh penambang bertahun-tahun hingga akhirnya menjadi danau.

Contoh lain, saat saya ke Kalimantan. Saya melihat banyak sekali semak belukar kering itu terbakar. Ketika saya tanya ke supir yang orang sana, ia menceritakan bahwa di sini adalah ladang batu bara. Sama seperti kisah di Papua, bahwa batu bara di sana itu sudah menyembul ke permukaan tanah, karena terik matahari makanya suka terbakar.

Lain, tembaga, lain emas, lain batubara, minyak bumi, gas dan lain-lain merupakan sebuah berkah yang bernilai tinggi. Ini baru yang kita tahu saja, padahal di luar yang kita ketahui tentu masih banyak sekali pertambangan kekayaan SDA di tanah negara ini.

Akan tetapi, dalam kekayaan ini mengapa masih banyak masyarakat Indonesia harus mengantri untuk membeli minyak tanah? Sekolah masih mahal dan gedungnya ambruk.. kesehatan masih merupakan fasilitas ekslusif, makan, sandang, papan.. masih merupakan sebuah wacana sana-sini. Apa yang salah?

2. Ekonomi Makro = Ekonomi Kontra Rakyat

Sekian tahun kita merderka bangsa ini mengalami perjalanan pembangunan sekian lama. Saat ini kita memasuki masa-masa pembaharuan dan penuh harapan. Namun kondisi ini nampaknya tidak seimbang dengan kondisi masyarakat itu sendiri secara umum. Ada banyak sekali masyarakat yang masih berpendidikan di bawah rata-rata, masih buta pengentahuan dan logika, masih mudah mencerna semua berita apa adanya. Opini publik masih sangat mudah digiring ke sana-sini.

Perekonomian bangsa ini tercatat membaik secara makro, kenyataan di lapangan masyarakat kita masih susah mendapatkan makanan. Ini merupakan dilema. Indonesia merupakan negara fiskal, yaitu negara yang bergantung dari pemasukan finansial dan bisnis non riil. Ciri sebuah negara kapitalis yaitu bergantung kepada bisnis perbankan dibandingkan bisnis riil-nya. Bisnis yang mengambil keuntungan dari fiskal, finansial, saham, obligasi, valuta asing, dan sejenisnya. Ciri perekonomian ini memang tidak menyerap tenaga kerja yang banyak. Tidak heran jika akhirnya ada banyak sekali perusahaan yang merestrukturisasi pegawainya, dengan alasan efisiensi.

Pemerintah saat ini sedang mengejar "prestasi" perbaikan ekonomi makro. Sebuah parameter yang bisa dicapai dengan menstabilkan ekonomi secara makro. Tidak heran jika akhirnya pemerintah harus bermain dengan bunga bank, mencabut subsidi BBM, peningkatan index saham, stabiltas rupiah dan dollar, bahkan sampai "menjual" asset negara. Dengan cara-cara ini maka "catatan" perekonomian bangsa ini terlihat membaik. Sebaliknya kenyataan di masyarakat tidak demikian. Kenaikan BBM berdampak ke banyak aspek. Begitu pun daya beli masyarakat yang makin lemah.

3. Menjual Mimpi Lewat Media

Kondisi perekonomian masyarakat yang lemah ini sudah merebak ke berbagai pelosok negeri ini. Daya beli menurun, keuangan yang tipis, sulitnya lapangan pekerjaan, dan sikap pemerintah yang tidak peduli membuat masyarakat hidup bagaikan zombie. Bergerak ke sana ke sini tanpa tahu apa tujuannya dan tak mampu lagi berfikir.

Yang menyedihkan, kondisi ini malah dimanfaatkan oleh banyak media televisi sebagai sebuah TONTONAN. Sudah lama kita menyaksikan tayangan yang menjual mimpi. Bukannya memberikan solusi yang cerdas dan pasti malah memberikan sebuah harapan-harapn palsu yang hanya indah saat muncul di layar TV, padahal dibalik itu semua adalah sebuah bencana yang tertunda.

Reality Show, acara cari bintang lewat audisi, voting bintang lewat SMS, SMS Reg Spasi bla ..bla..bla.. Ramalan yang menjanjikan perbaikan hidup, dan masih banyak lagi. Ini semua merupakan sebuah produk jualan mimpi, tidak realistis. Tersentak saat membaca berita di Kompas bahwa ada banyak finalis calon bintang yang akhirnya strees, terlilit hutang, sakit jiwa, hingga meninggal. Siapa yang musti bertanggung jawab? Yang memprihatinkan lagi, saat ini jualan mimpi sudah merebak ke anak-anak. Bagaimana nasib anak-anak saat ini dijadikan "jualan" oleh orang tuanya. Dijanjikan akan menjadi terkenal dan digandrungi banyak orang. Inikah yang menjadi impian anak-anak saat ini? atau impian orang tuanya? Pernahkan terfikir oleh kita bahwa kelak ketika anak-anak ini selesai ikut acara demikian akan bisa menjaga stabilitas mentalnya saat bertemu dengan teman-teman sebayanya? Lantas.. coba buktikan bahwa dari sekian banyak peserta "jual mimpi" ini yang berhasil survive?

Mana KPI? mana kepedulian pemerintah?

4. Politik = Media Kekuasaan

Saya masih gak habis pikir melihat sikap pemerintah yang setengah-setengah. Saya gak yakin kalau pemerintah tidak punya staf ahli. Staf ahli, dari namanya saja sudah jelas bahwa mereka direkrut sebagai seseorang  yang memberikan nasihat, pandangan, analisa, dan solusi yang pas buat keputusan dan kebijakannya.

Masyarakat sebagai manusia tentu punya daya nalar selain daya pandang. Setiap hari kita melihat kondisi buruknya bangsa ini di depan mata kita. Kita melihat jalan rusak, sekolah ambruk, bayi gizi buruk, antrian BBM, dst. Masa iya para pejabat kita tidak lihat? Beneran tidak lihat? atau tidak mau lihat? Lantas, kalau kita sebagai masyarakat sudah bisa melihat lantas kita menggunakan nalar, masa iya setingkat staf ahli dan menteri tidak punya nalar? Rasanya gak mungkin.

Namun, ternyata begitu lah adanya. Seorang yang diharapkan punya kemampuan melihat kondisi masyarakat, mampu menganalisa, mampu mencari solusi, dan mampu mengambil tindakan, ternyata cuma isapan jempol belaka. Mereka tidak mampu melakukan itu semua. Siapa yang salah? Apakah salah masyarakat kita yang bodoh tadi karena memilih mereka sebagai wakil rakyat? Saya punya pandangan lain atas hal ini

Pemerintah saat ini selalu menjual nama demokrasi dan pemungutan suara. Sayangnya  kita lupa bahwa mayoritas masyarakat Indonesia itu masih belum bisa dikategorikan pandai dan sadar dengan apa yang dia pilih. Baginya mereka pilihan hayalah cuma penjoblosan. Tak perlu tahu apa itu konsep, apa itu pandangan, dan visi dari calon yang dipilihnya. Yang akhirnya suara mereka ini merupakan suara BONUS bagi calon yang menang.

Contohnya, bayangkan kita menjadi RW di sebuah kampung. 70% warga kampung kita adalah warga berpendidikan SD, 20% gak sekolah, 10% lulusan universitas. Dalam mengambil keputusan bersama warga kampung kita melakukan pemungutan suara. Apa yang akan terjadi? Suara siapa yang akan menjadi mayoritas? Apakah  ini kondisi masyarakat bodoh yang memang sengaja dibuat oleh pemerintah?

5. Konspirasi Praktik

Kondisi negara kita yang nampaknya membaik dan maju ini ternyata hanyalah ilusi belaka. Bangsa ini sedang jalan di tempat (idle), seperti bergeser sebetulnya tidak bergerak sama sekali. Untuk sebagian orang mungkin iya, sementara untuk sebagian pejabat mereka jalan cepat.. tapi untuk kebanyakan (mayoritas) masyarakat ternayat hanya diam saja.

Kondisi ini bukan sebuah kebetulan, melainkan sebuah hasil kerja. Hasil kerja para pejabat negeri ini. Mereka melakukan pemikiran untuk melakukan ini, direncanakan, dipoles dengan jargon-jargon indah, lantas diaplikasikan ke masyarakat. Ketika masyarakat menjerit mereka ya diam saja. Ini merupakan praktik politik yang berjalan dengan mulus. Bukan cuma konspirasi teori melainkan sudah konspirasi praktik. Bagaimana kekuasaan itu bisa dibeli dengan uang. Ini bukan rahasia lagi. Silakan bagi yang punya uang banyak daftar sebagai anggota parpol, silakan tabung uang lagi untuk bisa masuk calon legislatif, silakan menabung uang lagi untuk bisa mencalonkan menjadi menteri. Semua ini bisa dijalani dengan tenang dan normal-normal saja. Sebuah kerjasama yang utuh dari level rendah hingga level paling tinggi sekalipun. Saat mereka menjabat kelak, apa iya mereka akan peduli dengan kepentingan rakyat? Silakan dijawab sendiri..

Bagaimana andil kita?

Monday, March 31, 2008

Jalan Tengah antara Roy Suryo - Blogger - Hacker - Selebriti

1. Roy Suryo - Dorce

Pagi ini saya menonton Dorce Show. Awalnya sih bintang tamunya itu Ferdi Nuril yang memerankan Fachri di film "Ayat-Ayat Cinta" ternyata berikutnya bintang tamunya adalah ROY SURYO. Awalnya saya gak faham mengapa dia hadir untuk tema ini. Ternyata topiknya bergeser menjadi foto dan video porno.

Saat itu saya akhirnya mengerti, bahwa kehadiran RS di acara ini membuktikan bahwa wawasan masyarakat Indonesia secara mayoritas tentang dunia maya memang masih jauh sekali. Bahkan para selebriti bintang tamunya pun nampak masih tidak ada gambaran ttg dunia maya. Mungkin masih sebatas cek email saja.

Bunda Dorce masih percaya bahwa Mas Roy ini adalah penyelamat para selebritis yg terkena gambar2 atau video porno. Begitu pun selebriti yg hadir, bahwa selama masih ada Mas Roy, artinya bangsa Indonesia tidak perlu khawatir kalau ada fitnah foto / video porno. Yang seru lagi, penonton yang hadir (dominan ibu-ibu) pun berharap supaya Mas Roy tetap giat membantu mengungkapkan masalah foto / video porno itu.

2. Roy Suryo - Selebriti

Dalam acara itu, Roy menjelaskan bahwa dia tidak pernah memajukan dirinya utk mengungkap masalah2 foto / video porno. Yang biasanya minta ke dia itu adalah teman2 wartawa dan kepolisian. Saat itu baru dia mencari fakta2 foto / video tersebut. Begitu pun saat dengan selebriti, selebriti itu tidak pernah menghubungi Roy langsung. Selebriti hanya minta pendapat ke wartawan trus wartawan  yang menghubungi RS. Begitu pun kalau video / foto para pejabat, yang minta itu kepolisian.

Di sini Roy bilang bahwa dalam pengungkapannya itu dia pun cuma memamparkan fakta-fakta aja, jadi kalau benar rekayasa atau tidak dia akan ungkapkan sebenarnya. Malah menurutnya atas pengungkapan fakta-fakta tersebut, banyak pihak yang tidak suka dengannya.

Ketidak fahaman para selebriti ini akan dunia maya bisa dimaklumi. Kita hanya berfikir bahwa selebriti kita itu sudah melek teknologi, ternyata tidak dan ini fakta dan ini musti dimaklumi. Kehadiran Roy Suryo dimata selebriti sangat menjadi angin segar dari kebutaan teknologi itu. Apalagi Roy Suryo dekat denganw wartawan-wartawan itu, dengan demikian bagi selebriti ini sudah cukup validitasnya.

3. Roy Suryo - Blogger & Hacker

Belakangan istilah blogger dan hacker jadi ramai dibahas di media-media. Ini diakibatkan dari kebobolannya beberapa situs yang kena "jahil" dengan mengubah serambi muka-nya (homepage). Yang seru semua webpage tadi di jahili dengan menggunakan wajah Roy Suryo. Ternyata ini semua perbuatan yang dilakukan sebagai bentuk protes atas sikap (pernyataan) Roy Suryo yang tidak valid, yaitu menyamakan istilah blogger dengan hacker.

Pernyataan Roy Suryo atas blogger ini memang menjadi pancingan kekesalan masyarakat dunia maya. Ini membuat gerah para aktifis blog yang sama sekali tidak tahu dunia hacking di internet.

Kehadiran blogger dan hacker juga cracker memang sejarah yang panjang bersamaat dengan sejarah internet itu sendiri. Blog merupakan kependekan pengucapan dari web-log, yaitu sebuah journal yang tercatat di web. Istilah log ini sebetulnya sudah sering kita dengar di film Star Trek, di mana di setiap pembukaan film ada narasi si kapten dengan kata-kata : "captain's log.. ". Awalnya blog digunakan justru oleh para pakar yang selalu berbagi jurnalnya ke masyarakat dunia maya. Ada blog seorang pakar ekonomi, pakar bisnis, ilmuwan atau dosen, bahkan pengamat olah raga, teknlogi dan gadget, dan lain-lainnya. Bedanya blog mereka ini dibuat sendiri (engine-nya) oleh mereka. Blog, beberapa tahun belakangan blog menjadi favorit bagi banyak orang awam setelah muncul www.blogspot.com - dimana semua orang sekarang bisa membuat jurnalnya sendiri. Nah.. karena ini jurnal pribadi, artinya semua isinya itu jelas merupakan materi yang musti di konfirmasi lagi kebenarannya. Konfirmasi inilah yang menjadi filter yang musti dilakukan oleh pengunjung blog orang tersebut.

Blogger sama sekali tidak ada hubungannya dengan hacker apalagi cracker (bahkan phreak). Para hacker, cracker, dan phreaker memang sering melakukan pencatatan (jurnal) di web. Isinya dari mulai catatan atas sebuah software beta, bugs, virus, dan lain-lain yang memang tujuannya adalah berbagi (share) dengan para hacker lain. Ini merupakan budaya yang lama di dunia maya, yaitu share (berbagi).

Nah, sekarang jelas mengapa para blogger marah atas pernyataan Roy Suryo, karena yang dikhawatirkan adalah kesalahpahaman atau mis persepsi masyarakat atas istilah blogger yang seolah-olah berkonotasi negatif (bad attitude). Jangan-jangan acara pesta blogger pun tidak diijinkan oleh pihak kepolisian nantinya. Kemudian di UU ITE akan ada kesalah pahaman atas definisi blogger, ini bahaya dan sangat memalukan tentunya.

4. Jalan Tengah

Bagi saya, saat ini kita membutuhkan bantuan media massa untuk menyebarkan informasi yang salah ini atas istilah blogger dan hacker. Kita tidak bisa menunggu konfirmasi atau penjelasan dari Roy Suryo. Sampaikan saja informasi yang lebih umum dan fair, tidak perlu memojokkan siapa pun. Lebih banyak masyarakat yang faham dengan perbedaan ini tentu akan sangat membantu kemajuan dunia maya Indonesia.

Kemudian untuk Roy Suryo sendiri, saya kira sudah tidak perlu diperdebatkan atau diusik-usik lagi. Keberadaan beliau di dunia selebriti nampaknya sudah menjadi satu bagian. Figur dia di mata selebriti sudah pas.. bantuan dia pun masih sangat dibutuhkan bagi selebriti yang awam dunia maya. Semoga saja Roy Suryo pun memberitakan informasi yang tidak salah persepsi juga. Dengan kata lain ikut membantu "membuka wawasan" internet ke masyarakat.

Akan tetapi, satu hal yang musti diluruskan adalah penggunaan istilah pakar telematika. Ini yang menurut saya bisa menjadi informasi yang salah. Roy Suryo tidak pernah menyatakan dirinya seorang pakar telematika, itu julukan dari wartawan infotainment. Dia tidak punya latar belakang pendidikan telematika jadi agak rancu kalo dijadikan pakar atau nara sumber telematika. Mungkin ada istilah lain yang lebih pas dengan buat Roy? Misalnya : pengamat image dan video selebriti di internet? atau apa gitu?

Dengan demikian perseteruan ini bisa menjadi sebuah jalan keluar buat kemajuan dunia maya di Indonesia.

Monday, March 17, 2008

Lady Driver : Ketika mobil punya kelamin

Mungkin ada yang pernah memperhatikan di beberapa pelataran parkir gedung perkantoran, mal, atau hotel, ada ruang parkir khusus pengendaran wanita. Dengan plang : LADY DRIVER.

Sebelum membahas hal ini gua mencoba cari-cari di internet konsep dari "deskriminasi" pengendara mobil ini. Ternyata tidak ada. Gue gak tahu apakah konsep Lady Driver ini merupakan sebuah penghargaan bagi pengendara wanita, atau malah semacam pelecehan terhadap gender tertentu karena merasa dianggap tidak mampu mencari parkir?

Bagi gue, terlepas dari perlu atau tidaknya Lady Driver ini gua hanya ingin mencoba memberikan pandangan atas kebutuhan identitas kelamin dari mobil. Parkir khusus Lady Driver seakan-akan memberikan sebuah "bonus" atau "kompensasi" bagi pengendara wanita. Sadar tidak sadar ini merupakan sebuah tretment khusus.

Gender Mobil

Di jalan raya, saat kita mengendarai mobil kita dituntut untuk selalu waspada terhadap mobil-mobil lain di sekitar kita. Saat kita mau belok, saat mau menyalip, saan disalip dst. Aturan-aturan di jalan nampaknya memang mewajibkan pengendara untuk waspada dan hati-hati terhadap pengendara (mobil) lainnya.

Dalam kasus tertentu, gue pernah saat berjalan lurus ada sebuah mobil yang baru muncul dari gang dan mau belok mengambil jalur gue. Menurut aturan yang gua tahu saat ujian SIM jika posisi mobil gua sudah berjarak hampir mendekati pertigaan, maka gua boleh lurus terus sementara mobil yang dari gang harus menunggu gua lewat (mengalah). Namun kejadiannya berbeda, mobil tadi tetap nyelonong belok pelan-pelan tanpa peduli ada mobil gua dari arah lain. Kontan saja gua harus mengerem mendadak. Gue sempat kesal dan marah.. lalu gua buka jendela, ternyata mobil tadi buka jendela juga. Ya.. pengemudinya perempuan. Dengan lantang dia marahin gua : "hei! ngalah dikit sama perempuan kenapa sih!!"

Saat itu gua hanya berfikir, apa iya gua gak sopan dan gak mau ngalah dengan perempuan? Salah ber-etika? Tata krama? Tapi gua mencoba mencari tahu, apakah iya ada aturan dalam berkendara untuk bertata-krama dengan pengendara wanita? Atau gua selama ini yang tidak tahu? Kejadian seperti tadi sangat sering gua alami. Bahkan saat ada sebuah mobil yang ingin belok ragu-ragu atau menyalip dengan asal-asalan, gue hanya bisa menebak.. ah ini pasti yang nyetir perempuan atau kakek-kakek.

Agak serba salah menghadapi mobil dengan pengendara jenis ini. Ya betul memang tidak semua wanita mengendarai mobil seperti ini, seharusnya memang tidak begini. Saat kita ujian SIM jelas-jelas tidak ada perbedaan ujian antara pengendara wanita dengan pengendara pria. Semua diuji dengan materi yang sama. Kita mendapatkan aturan berkendara dengan rambu-rambu yang sama, begitu pula dengan pelanggaran dan hukuman yang sama. Tapi pada kenyataannya, pengendara wanita dan orang manula ini suka menyulitkan bahkan membahayakan mobil atau pengendara lain.

Mobil Wanita


Kalau memang dirasa musti ada pembedaan antara pengendara wanita dengan pria. Saya rasa POLANTAS harus mengeluarkan tanda khusus bagi mobil dengan pengendara wanita. Misalnya dengan stiker atau lampu seperti TAXI. Dengan demikian tentu ini sangat membantu pengendara lain agar hati-hati dan memberikan prioritas untuk mobil tersebut. Ini sudah terjadi pada mobil yang digunakan untuk BELAJAR. Bahkan ada pemberitahuan untuk menjaga jarak. Kasus lain, ada mobil bodoh.. jelas-jelas di depan dia mobil bertuliskan belajar, malah meng-klakson berkali-kali supaya mengendara lebih cepat.

Gua berharap topik ini jangan dibelokkan menjadi topik diskriminasi gender. Gua sadar topik ini riskan banget, tapi gua percaya kalo temen-temen di sini bisa lebih terbuka memandang topik ini lebih luas.

Thursday, March 13, 2008

Ayat-Ayat Cinta

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Sudah terlalu banyak yang membahas film ini. Penuh dengan pro-kontra yang kemudian membuat film ini menjadi makin hangat di awal tahun ini. Saluut!!

Waktu nonton film ini gua berusaha pasang mood "serius", karena gua berfikir film ini akan penuh dengan "wejangan" dan pesan-pesan agamis. Gua gak berani bilang film ini adalah film dakwah. Untuk yang satu ini gua rasa cuma Hanung yang bisa jawab.

Tentang Film

"Ayat-Ayat Cinta" (AAC) adalah film saduran dari novel terkenal. Tentu ini merupakan PR besar buat siapa pun sutradara yang akan mem-film-kan. Tak lepas pula buat Hanung. Kita tahu Hanung punya pengalaman banyak buat film yang diadaptasi dari novel. Kebetulan saja, saya belum baca novel heboh ini. Banyak yang bilang ke gua kalo novel ini dahsyat sekali, sayang gua bukan pembaca novel sejati hehehe...

Gua gak akan meresume cerita AAC, pasti kalian bosen bacanya karena hampir di semua milis dan blog sudah diuraikan secara detil. Begitu pun goofs yang dibahas, selalu sama mengkritik bagaimana boom microphone bisa bocor, set yang tidak Cairo, Mesir nampak terlalu kumuh dll dll. Sudahlah.. itu kalian sudah tahu semua.

Bagi gua, ketika gua selesai menonton film AAC. Satu hal yang langsung membuat kepala gua bergeleng dan berdecak kagum adalah : novel ini kayaknya benar-benar dahsyat dan hebat. Film yang dibuat Hanung sangat tertolong dari kekuatan ceritanya. Kekuatan karakter dan personifikasi yang kental dan detil. Gua gak mau terjebak dengan casting orang Indonesia yang "di-mesir-kan". Gua berusaha melihat Surya Saputra itu sebagai sosok orang Turky yang kaya, begitu pun casting lainnya. Sebelum gua masuk bioskop, gua pikir film ini akan banyak menampilkan orang-orang Mesir asli, ternyata saya salah.. tapi gak pa pa.

Seperti yang gua tulis barusan, film ini sangat-sangat tertolong oleh cerita yang mutakhir. Secara film buat gua biasa aja. Ada shot suasana padang pasir dan piramid bagus sekali, itu keren.. ya jelas aja keren.. karena lokasi dan suasananya pun sudah keren. Tidak musti Hanung pun akan tetap keren. Tapi gua justru salut dengan bagaimana cara Hanung mengemas film ini menjadi sebuah kesatuan yang sebetulnya banyak sekali keterbatasan. Ini nilai lebih buat film Indonesia yang setting ceritanya di luar negeri.

Tentang Cerita

Ada banyak komentar penonton yang benci ke film ini karena kisahnya seperti mendukung kampanye poligami. Gua rasa bagi yang punya pendapat seperti ini, mendingan nonton lagi dari awal deh. Yang makin gua kecewa, saat gua menonton diskusi Hanung dengan Eric Sasono (pengamat film) di SCTV, mereka pun nampak terjebak dalam pembahasan pro - kontra dengan poligami.

Bagi gua, cerita dari film AAC ini mempunyai bobot besar dan sangat beresiko. Karena basic dari cerita cinta film ini adalah "membenturkan" ajaran-ajaran dan cara pandang ISLAM dalam melihat : wanita, jodoh, cinta, perkawinan, dan poligami. Semua ini tidak bisa dipisah satu dan lainnya. Karena semua berkaitan dalam cerita si Fachri ini. Kalau dipisah-pisah jadinya ya persepsi yang salah itu. Seolah-olah si Fahri dan Aisyah mengajarkan penonton untuk "mari poligami". Ini gak bener.

AAC secara baik sekali membeberkan konsep perkawinan yang menjunjung asas : bebet, bibit, bobot. Ini sangat Indonesia sekali.. makanya pas banget.

1. Bebet diwakili oleh Maria
2. Bibit diwakili oleh anaknya guru-nya Fachri
3. Bobot diwakili oleh Aisyah

Dalam AAC ketiga konsep tadi diwakili oleh tiga karakter yang sama kuat. Saat Fachry harus terjebak dalam posisi demikian, apa yang musti dilakukan? Mengikuti syariah? Ya.. karena dia sarjana Al-Azhar yang taat dengan ajaran Islam. Bagaimana Maria yang dengan modal cinta yang tulus dan sudah saling mengenal jauh daripada kedua saingannya, harus BUNTU karena perbedaan agama.

Lalu bagaimana seorang anaknya ustadz (Melanie Putria, karakternya lupa namanya), yang merupakan karakter yang secara bibit dan soleha sudah tidak perlu diperdebatkan lagi.

Terakhir, bagaimana seorang Aisyah yang kaya raya, baik, tapi belum lihat wajahnya secara menyeluruh dan musti melakukan Ta'aruf. Gua suka bagian dimana Fachry masih harus diskusi apa itu Ta'aruf. Ini penting untuk menjelaskan ke penonton.

Dari sanalah cerita ini akan dibawa. Jodoh.. apa sih jodoh? Bagaimana cara fachry menjelaskan ke ibunya tentang jodoh, sangat sederhana dan pas. Lalu bagaimana Fachry menjelaskan jodoh ke Maria lewat analogi sungai Nil dan Mesir. Apa itu cinta? Maria bisa dengan mudah menggambarkan itu lewat dairy-nya. Bagaimana Melanie kagum dengan Fachry dst. Lantas bagaimana dengan perkawinan? Aisyah menggambarkan ini dengan baik pula. Bagaimana suami, bagaimana isteri, dan bagaimana sebuah pasangan menjalani sebuah syariah agama.

Kalaupun pada akhirnya kisah ini memasuki babak poligami. Babak ini merupakan "benturan" atau konflik yang sangat bagus. Pro-kontra penonton merupakan sebuah hal yang sudah bisa diprediksi. Alasan Aisyah mengijinkan Fachry poligami bukan tidak beralasan, tidak konyol, dan sesuai dengan syariah. Bagaimana Fachry menghadapi sebuah pilihan poligami pun sangat indah dijabarkannya. Bukan karena hasrat sex semata. Ini tidak mudah tapi juga tidak musti rumit.

Pada akhirnya pun Fachry tetap bingung dan mempertanyakan akan sulitnya berlaku adil dalam poligami. Adil seperti apa? itu pun tidak semudah yg kita bayangkan. Kalau penonton bisa lebih terbuka melihat konflik yang dibangun ini maka mereka akan sadar bahwa poligami merupakan sebuah pilihan yang semestinya tidak hadir di depan mereka secara tiba-tiba.

Tentang Konyol

Ya.. ini hal konyol yang jarang diangkat penonton. Sejujurnya sorry banget gua gak suka dengan karakter Dennis dalam AAC. Mengapa harus ada dia? Mengapa harus ada "joke" dengan tingkah yang mirip badut? Ada yang bisa bantu gua mendapatkan alasannya?

Tentang Penulis Novel

Sayang ya dari sekian banyak penonton yang membahas film ini, tapi sedikit sekali yang menjelaskan siapa penulis novel hebat ini. Apa dia orang Indonesia? atau orang Mesir? Latar belakang dia itu seperti apa? Apa ia kuliah di Al-Azhar?

Gue gak banyak novelnya sih, jadi pengetahuan gua akan cerita ini secara keseluruhan pun jadi sempit. Tapi entah kenapa gua yakin, yakin sekali kalau cerita asli novel ini sangatlah hebat. Salut buat novelnya juga!

Foto Habiburrahman El Shirazy dari Google

Wednesday, January 2, 2008

Analisa Degradasi Musik Indonesia? (Market Oriented)

Suatu ketika, iPod di mobil saya habis battere-nya..so terpaksa puter radio saja. Saat browsing channel saya baru tersadar betapa musik dan lagu band Indonesia menguasai banyak frekwensi di radio-radio sekarang. Takjub! Tapi... ketika saya dengarkan lagi.. koq lagunya mirip-mirip ya?






Bibit Musik Lokal

Sekilas mengingat betapa industri musik di Indonesia ini sudah mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Musisi sudah mapan dan mampu di cap sebagai sebuah profesi dari kesenimanan. Hal ini bukan lah sebuah "hadiah" yang turun dari langit begitu saja melainkan buah dari hasil kerja keras para insan musik di negara ini selama puluhan tahun.

Saat saya masih SD, saya memasang poster-poster band asing di kamar sempit saya. Ada Queen, Genesis, The Police, Status Quo, dll. Buku catatan sekolah pun gak kalah kotor dengan stiker-stiker murahan bertuliskan Black Sabbath, The Doors, dll. Juga coretan-coretan pylox di gang-gang sempit. Saat itu musik asing meraja di Indonesia, tak heran jika semua kaset yang beredar pun ternyata semuanya BAJAKAN. Tak sedikit nama labels yang masih saya ingat, Pramaqua, Aquarius, Blackboard, Atlantic Records, Yes, Team Records. dll.

Bagaimana kondisi musik Indonesia saat itu? Wah jauh dari yang nampak sekarang. Musik Indonesia hanya mampu diterima sekelas dangdut. Sementara yang pop, hanya segelintir musisi yang mampu menembus pasar, sebutlah God Bless, Iwan Fals, Doel Sumbang, Fariz RM, Ikang Fawzi dll. Semua berjuang dan mempertahankan "selera lokal" di negeri ini. Tak kalah pula upaya Radio Prambors membangun musik lokal dengan LCLR (Lomba Cipta Lagu Remaja), dari situlah muncul istilah pop-kreatif.

Musik Pop

Istilah pop-kreatif ini saya rasa hanya ada di Indonesia. Mengapa? karena pada masa itu (80-an) istilah musik pop itu adalah musuh bagi anak-anak remaja saat itu. Musik pop dikuasai peredarannya oleh raksasa labels JK Records. Bermunculanlah penyanyi-penyayi solo yang menyanyikan lagu mendayu-dayu. Sebutlah Nia Daniati, Richie Ricardo, Maya Rumantir, dlsb. Saking eksisnya semua penyanyi itu masuk ke dalam sebutan JK Artist.

Menjadi penyayi merupakan sebuah perjuangan panjang dan melelahkan. Rasanya sulit sekali muncul di pasar musik Indonesia jika tidak membawakan lagu-lagu pop gaya JK Records. Saking meledaknya lagu-lagu sejenis hingga pasar sadar bahwa lagu-lagu yang beredar tersebut sudah mencapai titik jenuh, hingga Menter Penerangan saat itu (Harmoko) mengeluarkan edaran untuk stop membuat "LAGU CENGENG". Istilah ini muncul karena memang semua lagu yang beredar saat itu cengeng semua, Sedih karena diputuskan pacar, sedih karena cinta ditolak, dan seterusnya.

Dalam suasana kejenuhan tersebutlah para sekelompok anak muda berusaha lepas dari kungkungan selera labels yang cuma menyuguhkan "selera pasar". Sebutlah Gank Pegangsaan, lalu Jakarta Rhytm Section, GSP, dll. Bahkan ada beberapa yang "cuek" menyajikan jazz seperti Krakatau, Emerald dll. Semua hadir dan muncul dalam sebuah terobosan yang sangat signifikan.

Masa Transisi Pasar Anak Muda

Memasuki akhir tahun 80-an, musik Indonesia dikuasai oleh musik-musik radikal, yaitu gaya Iwan Fals. Kondisi politik saat itu menjadikan Iwan Fals sebagai tokoh corong suara rakyat. Luapan emosi massa sangat terasa saat mengalunkan lagu-lagu Bang Iwan, saat itulah mulai terasa kehangatan musik Indonesia di negeri sendiri. Bendera, spanduk, baliho, banner, dan banyak atribut lainnya.. semua bertuliskan FALS! FALS! Belum lagi komunitas-komunitas Fals yang bermunculan di banyak gang-gang sempit, daerah kumuh, dan pelosok-pelosok. Megah rasanya melihat kehadiran Bang Iwan dalam sebuah pentas panggung.

Lagu-lagu cengeng, mulai ditinggalkan. Lagu jenis balad lebih diterima. Saat bersamaan bermunculan pula band-band anak muda yang lebih berselera. God Bless muncul dengan menghadirkan gitaris ciamik Eet Syahranie (yang isunya pun dia muridnya Paul Gilberts). God Bless seolah-olah menjadi dukun dahsyat yang menghidupkan kembali mayat "rock" di Indonesia. Kalau musik pop mendapat nafas baru dari LCLR Prambors, maka musik rock mendapatkan nafas segar dari Log Zhellebor, seorang promotor musik rock kenamaan di negeri ini. Lewat labels LOGISS, Oom Log menelurkan banyak sekali band-band rock. Di saat itulah trend pentas panggung band makin laris.

Kehebohan ini makin menjadi semarak ketika Iwan Fals bersama Setiawan Djody meluncurkan group SWAMI dan KANTATA TAKWA. Diikuti dengan penampilan panggung mereka yang super dahsyat! Dengan panggung dan tata lampu kelas internasional, pentas mereka dapat dikatakan sebagai titik kebangkitan musik lokal. Atraksi lampunya pun sudah dahsyat sekali, berikut atraksi laser.

Masa-masa ini adalah catatan awal kebangkitan musik Indonesia. Anak-anak sekolah giat mampir ke studio-studio kecil untuk latihan band membawakan lagu-lagu lokal. Sebut saja lagu andalan mereka : "Semut-Semut Hitam" - God Bless, "Bento" - Swami, "Rock Bergema"- Roxx, dll.

Era MTV

Perjalanan musik Indonesia kian hari kian menancapkan cakarnya ke tanah air. Kehadiran musik Indonesia ini makin diperkuat dengan hadirnya MTV di ANTV. Saat itu lah musik Indonesia mulai masuk ke babak "professional". Musik Indonesia mulai dibiasakan dengan videoklip sebagai materi "marketing"-nya. Kebangkitan musik Indonesia pun ditandai dengan masuknya berbagai labels international, seperti Universal Music, Warner Music, EMI, Sony, dan BMG (dulu belum bergabung). Sejak itulah musik Indonesia mulai bersentuhan dengan prinsip dagang.

Sebagai band, mereka harus berfikir penuh strategi pemasaran. Pembuatan videoklip menjadi sebuah keharusan. Di saat itulah muncul berbagai production house yang khusus menelurkan videoklip band lokal. BDI, Avantgarde, Rexinema menguasai pasar videoklip lokal. Sutradara Rizal Mantovani dan Dimas Jay pun laris manis menguasai pasar videoklip.

MTV men-support dengan memunculkan acara MTV Ampuh (Ajang Musik Pribumi Sepuluh), lewat acara tersebut makin terasa musik-musik Indonesia makin punya kelas di pasaran lokal. DEWA 19 merupakan band yang menjadi benchmark kesuksesan saat itu. Penghargaan demi penghargaan membuktikan bahwa musik Indonesia sudah punya 'value'. MTV pun menganugerahkan Dewa 19 sebagai band terbaiknya. Istilah VJ (Video-Discjockey) pun marak di kalangan anak muda, MTV menjadi sebuah ikon anak muda gaul dan keren. MTV pun memberikan timbal balik dengan memberi sebutan "anak nongkrong" bagi penonton setia MTV. Anak muda dikenalkan dengan VJ yang keren.. Jamie Aditya, Sarah Sechan, Nadya Hutagalung, Donita, dan RAHUL KANA! :). Belum lagi anak muda dikenalkan dengan istilah bumper. MTV selalu memunculkan bumper-bumper unik yang khas anak muda. Saat itulah anak muda makin "liar" dan berani untuk unjuk gigi. Belum lagi media support lainnya seperti majalah dan radio.

Bisnis Musik

Masukalah musik Indonesia ke babak professionalisme. Musisi harus mampu menjadi businessman dalam menganalisa lagu-lagu yang akan diedarkan. Belum lagi strategi pemasaran dan distribusi. Pertimbangan kualitas musik dan sound pun jadi pertimbangan penting. Semua itu rela dibayar mahal demi sebuah profesionalisme. Profesi dalam industri musik ini pun makin berkembang. Ada music director, vocal coach, sound engineer, dll. Belum lagi dalam manajemen band itu sendiri, selain ada manager, ada road manager, ada stylist, ada tim media yang mengurus foto, video, dan web. Semua hidup sebagai sebuah profesionalisme bisnis.

Saat ini, ada berapa banyak musisi Indonesia yang kaya raya hidup bagai bintang dan rockstar? Rumah mewah, mobil sport, wanita, media, bahkan studio rekaman pribadi. Fans club, komunitas, tour, roadshow, dan lain sebagainya sudah menjadi keseharian. Ini merupakan sebuah titik puncak sebagai musisi di negeri sendiri.

Era Ring Back Tone

Penjualan musik di pasar lokal ternyata mampu menghidupkan profesi musisi. Pasar punya nilai tinggi dan musti menjadi pertimbangan strategi sebuah band. Belum lagi kemasan dan nama band yang mulai disikapi lebih berkonsep. Segitupun sudah digerogoti oleh barang bajakan. Bayangkan jika tanpa bajakan, mungkin royalti band bisa lebih dahsyat lagi.

Royalti penjualan CD dan kaset saat ini makin ditambah dengan royalti via RBT (Ring Back Tone) di beberapa mobile phone provider. Tidak heran jika royalti dari RBT ini mampu meraup keuntungan yang lebih besar dari CD dan kaset.

RBT, merupakan media baru pendistribusian musik di Indonesia. Di saat dunia sedang seru dengan MP3, iTunes, dan iPod, Indonesia justru sedang khusuk mengurus RBT. Penjualan lagu via handphone punya nilai yang sangat tinggi. Penjualan cara "ketengan" ini ternyata mampu mendongkrak penjualan album secara keseluruhan.

Market Oriented sebagai Pisau Bermata Ganda

Selama tahun 2004 - 2007 ini, RBT mulai merajai bisnis musik di Indonesia. Nilai jualnya sangat menggiurkan para pengusaha musik dan musisi. Ukuran ini menjadi tolok ukur nilai pasar di masyarakat. Penjualan CD, kaset dan RBT sudah valid dijadikan alat ukur kesuksesan band secara bisnis. Tak heran jika akhirnya musisi dan labels sepakat untuk menelurkan musik "berselera pasar". Pasar suka jenis lagu "mendayu" maka semua band harus bikin lagu jenis mendayu. Ketika memasuki bulan Ramadhan, tidak sedikit pula band-band menelurkan lagu religi. Saat itulah sebuah band berkarya atas kendali pasar (market driven). Strategi pemasaran produk pun diterapkan.

Yang uniknya lagi, konsep market driven ini memunculkan fenomena baru. Ketika sebuah labels punya nilai ukur jual yang berbeda dengan nilai ukur pasar. Ini terjadi pada KANGEN BAND. Saat itu mereka selalu gagal menjual lagu-lagu mereka ke labels, dengan alasan susah laku. Lantas lagu-lagu mereka bocor ke pembajak lagu dan kemudian terjual laris manis. Penjualan yang dahsyat ini membelalak mata pengusaha musik, kontan saja Kangen Band langsung di rekrut oleh Warner Music dan diperlakukan seperti band profesional. Cara yang terbalik ini sangat unik. Artinya pasar bajakan sudah bisa dijadikan ukuran laku tidaknya sebuah band di pasaran (ingat kisah Inul Daratista).

Bagaimana Kangen Band bisa dengan mudah diterima pasar? Mungkinkah jika dikatakan timing mereka saja yang pas? Kelahiran Kangen Band di pasar musik Indonesia itu adalah di saat pasar musik dengan gandrung dengan lagu mendayu "Kenangan Terindah"-nya SamSonS dan lagu-lagunya Ungu?

Jika diperhatikan, jenis lagu tersebut ternyata sedang digemari oleh pasar. Tak heran bermunculan lah band-band dan musisi baru yang melantunkan lagu-lagu berjenis sama. Nadanya nyaris sama.. chord-nya nyaris mirip.. temanya pun gitu-gitu aja.. belakangan saya sadar kalau saya gak bisa bedain antara lagu yang satu dengan lagu yang lain.

Kembali ke selera pasar, ada fenomena unik lainnya. Yaitu sebuah lagu bisa dengan mudah menjadi hits lewat bantuan SINETRON. Sebutlah Letto, yang penjualannya meledak beriringan dengan meledaknya sinetron yang menggunakan lagunya sebagai soundtrack. Kasus ini berbeda dengan Album HEART-ya Melly yang menelurkan album soundtrack ini khusus dibuat untuk film bertajuk sama "Heart".

Hal lain lagi adalah berubahnya "gaya" MTV sejak diambil alih oleh Group Media MNC. Dimana MTV makin hari makin menurun daya kreasi yang khas anak mudanya. Berkurangnya porsi penayangan videoklip di GlobalTV membuat para band mengurangi budget pembuatan videoklip karena dirasa kurang efektif. Apalagi cara marketing lainnya yang lebih efektif bisa dilakukan dengan cara join dengan sinetron tadi.

Bumper-bumper unik gaya MTV sudah mulai hilang, diganti dengan iklan-iklan REG SPASI dan SMS setiap jamnya. Belum lagi iklan murahan seperti alat pengecil perut, pembakar lemak, dan memperbesar payudara. Sangat jauh dari "ciri" dan "selera" MTV yang menyebut pemirsanya "anak nongkrong". Itu semua jauh dari gaya anak nongkrong. Belum lagi gaya VJ MTV yang makin hari makin "terpaksa" musti terlihat humor, asik dan cool. Yang terjadi malah kebalikannya. VJ Hunt MTV nampaknya sudah terlalu terpatok bahwa gaya VJ itu harus kocak seperti Jamie Aditya, liar seperti Sarah Sechan, atau cool gaya Nadya Hutagalung. Alhasil.. yang muncul adalah VJ dengan gaya "look-a-like" semua.

MTV sudah bukan lagi menyajikan gaya anak muda urban. Perlahan-lahan anak-anak muda urban makin mengurangi jatah "nongkrong"-nya di depan MTV. Berganti dengan anak-anak daerah. Tak heran jika belakangan gaya MTV saat ini lebih cocok menjadi tontonan anak muda di daerah-daerah. Apa ukurannya? liat saja siapa yang datang saat acara off-air MTV di gelar.

Penutup

Akankah ini pertanda masa degradasi kreasi musik Indonesia? Bagaimana para musisi harus menghadapi market driven yang sangat kuat ini? Apa yang menjadi pertimbangan para labels dalam mengatur porsi musik untuk diapresiasi dengan musik untuk komoditi?

Banyak musisi yang mulai melakukan konsep artist / band manajemen. Sebagai lembaga independen mereka mencoba melakukan sikap-sikap yang non-market driven. Selain itu scene musik indie di Indonesia nampaknya masih punya power bargaining yang sangat kuat. Jauh dari kendali labels apalagi pasar publik luas. Mereka punya pasar yang kecil namun loyal.

Hal lain adalah dengan adanya label-label kecil yang punya pasar sendiri (captive market) yang kuat sekali, yaitu AKSARA MUSIC. Label ini tetap berani dan bertahan menelurkan musik-musik dan band yang tidak "market oriented". Tak heran jika band-band dari label sejenis ini mampu menawarkan gaya dan jenis musik yang tidak pasaran. Tapi apakah bisa diterima di pasar umum? Saya rasa tidak.. karena itu tadi.. seleranya sudah beda.

Semoga scene musik indie di negara ini tetap hidup (walau oksigennya tidak nambah), semoga label-label kecil berkarakter makin tumbuh subur (walau cuma memanfaatkan ceruk pasar yang kecil), semoga para pengamat musik tetap mengingatkan musisi-musisi agar tidak terjebak dalam pusaran selera pasaran, dan semoga musisi-musisi Indonesia tidak cuma berkarya demi selera dan duit pasaran... tapi juga mampu memberikan nilai bagi khazanah musik di Indonesia.

Astaga... panjang amat!!
Selamat Tahun Baru 2008 MUSIK INDONESIA! :)

(Foto diambil dari http://aparatmati.multiply.com - Arian Seringai)


Tuesday, January 1, 2008

Iklan Molto "Negeri Kain" - versi Comfort Creme (UK)

Kaget setengah mati sama TVC Molto tentang "Negeri Kain". Mungkin saja gua salah.. yaitu kalo ternyata produk ini sama, antara Molto dan Comfort Creme, tapi kalau ternyata beda.. pihak yang musti diinterogasi adalah creative director advertisingnya. Tak lama.. Creative Director Ogilvy & Mather untuk produk Unilever memberikan konfirmasi bahwa produk tersebut sama, hanya beda nama brand-nya.

Mungkin teman2 ada yang udah lihat promonya di TV? Sering diputar di Trans7. Berikut adalah versi Comfort Creme (UK). Yang buat 3D-nya ini sebuah creative house di London  yang udah berhasil menelurkan banyak sekali 3D yang keren-keren, namanya Mill (www.mill.co.uk)

Ini iklan Comfort Creme-nya


Saturday, December 22, 2007

TransTV nyontek?? Gak heran

Dulu sekali.. ketika INSERT pertama muncul, gw kaget karena logo dan treatment nya mirip sekali dengan E! (channel gosip dan infotainment seleb Amerika), lantas sekarang cuma ganti warna aja menjadi biru.

Belakangan teman saya komplain karena tulisan joke di blog dia di copy buat naskah Extravaganza, yang setahu saya dulu pun sering menggunakan ide ide joke dari forward-an email kocak.

Eh tahunya.. belum lama teman sekantor saya menunjukkan sebuah game show Jepang yang kocak banget.. ternyata di jiplak abis juga. Nama acaranya "Ssst.. Usil Banget Deh" dengan host Bedu. Silakan tonton.. dan silakan samakan dengan acara aslinya versi jepang. Terasa deh.. mana yang orisinal dan mana yang nyontek

Segment lain: