Wednesday, December 2, 2009

Sensor vs Kebebasan Informasi : Dilematis Media vs Audience

Tentang Informasi

Jika kita ingat sepuluh tahun ke belakang, rasanya belum pernah terbayang bahwa teknologi informasi bisa tumbuh sangat pesat seperti hari ini. Informasi yang beredar di masyarakat begitu deras dan cepatnya. Akibatnya masyarakat bisa jadi kewalahan bahkan tak mampu mengimbangi derasnya informasi tersebut.

Dari konteks tersebut rasanya kita sulit mengkategorikan kejadian ini sebagai sebuah kemajuan atau ancaman. Seperti pisau bermata ganda, teknologi informasi sering disikapi dengan pro dan kontra. Ada pihak yang mendukung penuh kemajuan teknologi informasi ini ada pula yang mengkhawatirkan sebagai ancaman kerapuhan sosial.

Teknologi informasi berdampak langsung terhadap era keterbukaan. Saat ini setiap orang mampu menerima informasi secara langsung dan lebih cepat dari sebelumnya. Begitu pun sumber berita yang dulu hanya didapat dari media massa kini semua orang sudah bisa menjadi reporter, wartawan, atau nara-sumber. Keterbukaan ini membuat masyarakat seakan berada di dalam dunia yang tanpa batas, baik batas waktu, batas wilayah, batas profesi, batas agama, batas norma, batas realita, bahkan batas-batas susila.

Di sisi lain, keterbukaan informasi ini menjadi manfaat besar bagi banyak masyarakat pula. Keterbukaan informasi menjadikan sistem negara demokrasi menjadi lebih terbuka. Keterbukaan informasi seakan menjadi alat penting dalam era keterbukaan pemerintahan. Presiden, menteri, dan masyarakat bisa langsung saling menyapa dan memberikan saran dan masukan satu dengan yang lainnya. Bahkan beberapa menteri pun sudah siap menggunakan Twitter sebagai sarana komunikasi dengan masyarakat. Lewat alat komunikasi canggih seperti internet sebuah opini publik bisa lekas disikapi oleh pemerintah, misalnya dalam kasus KPK kemarin.

Keterbukaan ini jelas hanya terjadi masa kini saja. Dahulu rasanya sulit sekali mencari informasi. Masyarakat butuh upaya lebih demi mencari sebuah informasi. Belum lagi sistem pemerintah untuk mengatur peredaran informasi di masyarakat lewat cara yang disebut sensor.

Tentang Sensor

Sensor merupakan salah satu upaya penyaringan informasi yang akan menyebar di masyarakat. Sensor saat ini menjadi momok di era super keterbukaan informasi. Sensor nampaknya menjadi kuno dan musti segera dihapuskan. Tapi apa betul sensor itu merupakan hal yang bertentangan dengan keterbukaan informasi?

Saat film  2012 beredar, beberapa masyarakat bahkan MUI menyarankan agar film tersebut ditarik dari peredaran, karena dianggap tidak layak tonton oleh masyarakat. Sementara di  masyarakat sisi lain justru tidak mempermasalahkan apa yang dikhawatirkan oleh MUI dan masyarakat sisi lainnya lagi. Lalu film Balibo, yang dianggap bisa mempermasalahkan hubungan RI dangan Australia, sebelumnya juga tentang melibatkan Maria Ozawa di salah satu film nasional, ada yang melihatnya biasa-biasa saja, ada pula yang menilainya sebagai ancaman moral bangsa. Bagaimana ini bisa dibedakan?

Sensor seringkali dikaitkan dengan pembatasan informasi asusila. Kenyataannya fungsi sensor lebih dari sekedar "polisi asusila". Dalam sebuah tayangan yang menampilkan sebuah adegan kejam, keji, atau berkaitan dengan SARA, jelas akan dikenakan sensor. Fungsi sensor jelas dalam konteks melindungi masyarakat. Gambar adegan kejam dan keji misalnya, tentu tidak layak ditayangkan jika bisa menbuat masyarakat resah dan cemas. Begitu pula jika ada tayangan yang bisa dianggap melanggar norma-norma susila, tentu akan dilarang.

Akan tetapi, apa parameternya jika masyarakat yang satu dengan yang lain berbeda dalam menilai sebuah nilai-nilai? Semisal dalam kasus tayangan norma susila. Di beberapa masyarakat film Baywatch bisa dikatakan biasa saja, akan tetapi di wilayah lain tentu bisa meresahkan norma susila masyarakatnya. Begitu pun dengan adegan berdarah-darah, bagi beberapa golongan masyarakat mungkin biasa saja namun di beberapa masyarakat lainnya bisa jadi meresahkan. Walau kita mengenal istilah norma dan nilai-nilai obyektif, namun nampaknya hal ini tetap sulit untuk digolongkan begitu saja.

Edukasi Masyarakat (Audience)

Melihat dua kondisi yang selalu berbeda itu, nampaknya ada satu hal penting yang terlupakan dari kontradiksi antara SENSOR vs KETERBUKAAN ini, yaitu tingkat pendidikan masyarakat sebagai pencapir-nya (penonton - pendengar - pembaca - pirsawan). Tingkat pendidikan jelas akan mempengaruhi tingkat persepsi. Hal ini penting sekali dan keliatannya sering dilupakan. Persepsi seseorang sudah pasti bisa beda dengan persepsi orang lainnya walau dalam tingkat pendidikan yang sama, apalagi jika persepsi itu dihadapkan pada orang dalam tingkat pendidikan yang berbeda.

Indonesia memiliki lebih dari 250 juta manusia dalam tingkatan pendidikan yang berbeda, bahkan jauh sekali bedanya. Jurang tingkat pendidikan ini nampak jelas saat terjadinya kontroversi pengadaan Ujian Nasional (UN) di tingkat sekolah menengah. Masalahnya cuma karena mereka merasa materi yang diujikan belum mencapai tingkat yang sama antara satu daerah dengan daerah lainnya. Ini masih dalam lingkup pelajar, bagaimana di tingkat orang-orang tua mereka yang jelas jauh dari pendidikan yang layak?

Disini lah duduk perkaranya bahwa sensor itu musti tetap dilakukan dalam hal siapa pemirsa yang akan melihat / menonton / mendengar / membaca-nya. Wawasan dan latar belakang pendidikan manusia sebagai penerima informasi sangatlah penting. Saat manusia menerima sebuah sensasi dari panca inderanya, maka saat itu otak akan melakukan persepsi, lantas dari persepsi inilah seseorang akan menyikapi informasi-informasi yang diterima inderanya. Minimnya wawasan dan informasi seseorang jelas akan berdampak terhadap persepsi dan sikapnya.

Bioskop kita melakukan sistem sensor juga pembatasan penontonnya lewat kategori usia penonton, ada kategori semua umur, 17 tahun ke atas, khusus dewasa dan yang lainnya. Akan tetapi nampaknya pembatasan lewat kategori usia tidaklah cukup, sudah saatnya distributor film di Indonesia melakukan pembatasan peredaran film ke daerah-daerah yang tingkat pendidikan masyarakatnya dikategorikan rendah. Begitu pula halnya dengan penayangan acara di televisi. Seiring dengan pembatasan stasiun dan penyiaran acara tv lokal, maka sistem tersebut bisa dilakukan sebagai batasan juga. Acara-acara TV yang sekiranya tidak layak ditonton di wilayah daerah tertentu maka tidak boleh disiarkan disana.

Keterbukaan Informasi VS Keterbatasan Psikologis

Hal lain yang musti kita ingat dari reaksi penonton adalah dampak psikologisnya. Kita musti sadar bahwa apapun yang ditonton oleh penonton jelas akan mempunyai dampak secara psikis. Baik itu perasaan senang, sedih, marah, cemas, dan seterusnya. Dampak psikologis ini pun berkaitan langsung dengan tingkat pendidikan si penonton tadi. Makin minim tingkat pendidikannya maka bisa dipastikan penonton tersebut makin sulit mengatur reaksi psikologinya saat menonton. Contohnya, seorang pembantu rumah tangga bisa sangat sedih saat menonton sinetron di TV. Atau seorang mahasiswa bisa sangat marah saat menonton sekilas info, atau seorang ibu rumah tangga yang cemas saat mendengar berita seorang selebriti mau cerai.

Dampak psikoligis ini yang seringkali suka disamaratakan antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain. Seringkali kita lupa bahwa di wilayah lain negeri ini masih banyak penonton yang minim persepsinya dalam melihat materi tontonan. Jargon kebebasan menerima informasi seakan-akan ditembak rata, lalu keterbatasan informasi seakan dianggap sebagai pengekangan kebebasan. Benarkah demikian? Saya rasa tidak juga.

Seorang ibu jelas ingin membiarkan anak-anaknya menonton TV, akan tetapi si ibu pun tidak mau anak-anaknya menonton tayangan yang menyeramkan, membuat anaknya cemas, apalagi takut. Berita-berita di TV seringkali menayangkan kejadian yang cenderung vulgar, makin vulgar dianggap makin otentik, dan makin otentik dianggap makin valid. Tapi mereka lupa bahwa yang valid, otentik, dan vulgar tadi ternyata tidak dibutuhkan oleh anak-anak. Mereka belum mampu menyikapi tayangan tadi itu dengan persepsi yang sama dengan orang dewasa, hasilnya tentu akan berdampak buruk bagi perasaan dan psikologi anak. Contoh lain, bahwa ada banyak penonton yang takut melihat darah, tayangan sadis, tayangan horor, juga tayangan yang membuat mereka jengah. Ini pun musti dihargai.

Dari kejadian-kejadian tadi, maka saya beranggapan bahwa keberadaan LSF, censorship, dan KPI tetap musti ada, akan tetapi dengan paramater dan kategori-kategori yang jelas dan proporsional. Tidak hantam kromo. Seperti kasus komik nabi di sebuah blog kemarin itu, masalahnya itu cuma seekor tikus di sebuah lumbung padi, lantas pembasmiannya dengan mengebom si lumbung padinya. Betul, bahwa tikus itu mati, namun semua isi lumbung termasuk lumbungnya pun ikut hancur. Sikap ceroboh inilah yang saya rasa musti dicermati lebih dalam lagi.

Selamat menonton dengan nyaman :)
Salam
Motulz

Friday, October 31, 2008

Mau Tahu Kapan Anda Mati? Kirim SMS ke 666

Sejak lama, gue udah dengar yang namanya REJEKI, JODOH, dan MATI itu ditangan TUHAN. Dalam agama saya ya di tangan Allah. Konteks ketiga hal ini gue rasa bisa dimaklumi mengingat ketiga topik barusan merupakan bagian dari rahasia kehidupan. Rahasia.. artinya memang cuma Tuhan lah yang tahu isi dari ketiga rahasia tadi.

Namun, seiring dengan kecanggihan teknologi (mungkin?), manusia nampaknya mulai memasuki wilayah yang sebetulnya rancu, yaitu wilayah rahasia Tuhan tadi. Manusia nampaknya makin jumawa dalam menyikapi rahasia dan konsep-konsep ketuhanan. Istilah banyak orang "playing God", yaitu bermain-main menjadi Tuhan.

Nah.. kenapa gue menulis judul barusan?

Belakangan ini gue sering banget melihat iklan jasa SMS di TV yang isinya itu sudah memasuki wilayah salah dua dari ketiga rahasia Tuhan tadi yaitu REJEKI dan JODOH. Dalam iklannya mereka berani mengklaim bahwa dalam mencari rejeki pun mereka bisa tahu bahwa pekerjaan yang dilakukan itu SALAH. Apalagi dengan dilengkapi analisa tanggal atau hari kelahiran. Misalnya anda lahir Rebo Kliwon.. jadi gak cocok kerja di air. Bagi saya ini cukup fenomenal dan sebuah terobosan besar di dunia keprofesian.

Satu lagi yaitu masalah jodoh. Mereka (si penyedia jasa SMS) berani memberikan perhitungan prosentase kecocokan anda dengan calon pasangan anda. Selanjutnya jika ternyata prosentasenya itu di bawah 50%, mereka berani bilang untuk stop dengan si calon dan mencari calon lain yang lebih cocok. Damn! Ini keren banget.. harusnya sudah masuk ke acara Discovery Channel. Ini sebuah kemajuan manusia abad ini, yaitu bisa memecahkan dua dari tiga rahasia Tuhan.

Bayangkan, dari tiga rahasia Tuhan tinggal satu lagi yang belum masuk jasa SMS yaitu menghitung hari atau tanggal kematian.

"Bingung sama tanggal kematian kamu? Jangan gelisah.. saya... KI Anom Turuhejo bisa menghitung kapan tanggal kematian kamu dari perhitungan weton. Kirim SMS Reg spasi MODAR ke 666... pasti anda mati saat menerima jawaban saya"

Lantas, bagaimana masyarakat atau pemerintah dalam menyikapi hal ini?
Jika melihat frekwensi seringnya tayangan iklan sejenis ini, tentunya pemasukan mereka tinggi sekali. Beriklan di TV itu tidak murah. Artinya, di saat kondisi negara yang tidak jelas juntrungannya ini, penjualan jasa tersebut bisa jadi laris manis. Belum lagi sikap pemerintah yang plin-plan dan gak jelas.. dan keliatannya pemerintah pun tidak peduli dengan iklan tersebut yang jelas bagi saya sangat-sangat gak pantas buat tayang di TV.

Seru sekali ya bangsa ini...


Sunday, October 26, 2008

Mari Selamatkan Moral Bangsa.. dengan UU-Pornografi?

Menjelang hari-hari menentukan bagi nasib RUU-Pornografi & Pornoaksi diputuskan, ternyata makin banyak kelompok-kelompok yang makin gencar melakukan unjuk rasa sebagai sikap dukungan atau penolakan. Dari kedua belah pihak yang sedang berseteru ini keduanya mempunyai argumen yang sama kuat demi menggolkan atau pun menggagalkan si RUU ini. Akan tetapi yang saya lihat kedua-duanya ini mempunyai kesamaan yang sangat signifikan, keduanya bertujuan tetap sama.. yaitu : Upaya menyelamatkan moral bangsa.

Bagaimana kalau keduanya itu bisa sadar bahwa dibalik segala perbedaan pendapat dan pikiran atas RUU ini, namun dasar pijakannya ternyata tetap sama, prioritas akan kepedulian moral bangsa nampaknya memang sudah semestinya diselamatkan dan harus segera diambil tindakan konkrit, bukan cuma kajian atau pun wacana. Akan tetapi pertanyaannya.. apakah usaha penyelamatan moral bangsa ini harus segera dilaksanakan dengan memprioritaskan pornografi sebagai biang atau akar kebobrokan moral bangsa ini? Saya rasa koq bukan ya?

1. Antara Etika, Moral, dan Ahlak

Karena seringnya kita mendengar ketiga kata tersebut, etika, moral, dan ahlak, sampai-sampai banyak diantara kita yang ternyata samar dalam memahami perbedaannya. Saya tidak akan membahas ketiga bahasa tersebut dalam kajian bahasa. Secara umum, etika adalah norma-norma masyarakat yang berkaitan dengan latar belakang budaya, sementara moral adalah norma-norma masyarakat pada umumnya (tidak melihat dari budaya), sementara ahlak adalah norma-norma masyarakat yang berlandaskan ajaran dan aturan agama. Ketiganya berfungsi sama yaitu mengatur norma-norma masyarakat. Mari kita ambil contoh yang sedang kita bahas saat ini, yaitu : ketelanjangan. Jika kita melihat ketelanjangan itu secara etika, ini jelas akan jadi bias saat kita menempatkan telanjang ini, di kamar mandi? anak sunat? ibu menyusui? pameran seni? fotografi? dan lain sebagainya. Etika telanjang itu harus melihat kultur budayanya. Bagi suku asmat mereka etis melakukan ketelanjangannya. Justru dengan memaksakan mereka menutupi ketelanjangannya itu sama saja dengan menindas etika budaya mereka.

Tapi, jika kita melihat ketelanjangan Suku Asmat dari sisi moral, bisa jadi mereka dianggap tidak sopan. Tapi apa berarti tidak bermoral? Jelas tidak. Mengapa? karena telanjang itu bukan masalah moral tapi masalah etika. Tapi sejak telanjang itu mulai diperjualbelikan (komoditi dagangan) sejak itu lah telanjang dianggap tidak bermoral, atau merusak moral. Saya rasa poin inilah yang ingin dicapai lewat RUU-Pornografi. Jika saja perumus RUU mampu dan bisa membedakan antara telanjang/semi telajang sebagai perilaku dan sebagai komoditi jualan, saya rasa masalahnya tidak akan serumit ini. Suku Asmat itu telanjang tapi sebagai perilaku budaya, ibu menyusui itu perilaku, hubungan sex itu perilaku, berbikini di pantai itu perilaku, topless orang asing di Bali, itupun perilaku, karena dari kesemuanya itu dilakukan bukan untuk "dagangan". Tapi ketika semua itu dilakukan untuk konteks entertainment dan jualan, maka sudah jelas ini melanggar etika pun moral.

Lalu, bagaimana dengan ahlak? Ini sudah tidak perlu dibahas dan diperdebatkan, aturan ahlak itu jelas. Selama manusia / individu tersebut menjalankan ajaran agamanya, maka dia sudah akan bisa membedakan mana telanjang yang boleh dan yang tidak. Untuk masalah ahlak ini saya rasa sudah bukan kapasitas DPR untuk mencampurinya, boleh sebagai pijakan akan tetapi musti tetap hati-hati karena ini berkaitan dengan keyakinan setiap manusia Indonesia dan itu sudah wilayah individu itu sendiri dengan khalik-nya.

2. Menyelamatkan Moral Bangsa

Misi tersebut merupakan tujuan dari RUU Pornografi ini. Diberbagai unjuk rasa yang saya lihat di TV, atau pun perdebatan dan diskusi-diskusi, mereka menyebutkan moral bangsa sebagai yang musti diselamatkan lewat RUU ini. Saya setuju, jika anggapan pornografi ini sebagai perusak bangsa.. setuju sekali, akan tetapi saya akan lebih setuju jika yang musti diselamatkan itu moral secara keseluruhan, bukan cuma kepornoan.

Jika memang kita setuju ingin menyelamatkan moral bangsa, apa iya pornografi merupakan ranking teratas dalam kebobrokan moral bangsa ini? Saya koq gak yakin ya? Kebobrokan moral bangsa ini sudah bisa kita lihat di depan mata kita, kita ambil contoh :

- Korupsi / mencuri uang negara dan rakyat (pajak)
- Kolusi
- Membohongi dan menipu masyarakat
- Pembodohan masyarakat
- Pejabat dan calon pejabat yang umbar dan ingkar janji
- Menjual belikan agama sebagai alat politik
- Pejabat, aparat, guru, ulama yang munafik
- Menelantarkan anak
- Mempekerjakan anak
- Narkoba
- Minuman keras (memabukan)
- dlsb (terlalu banyak)

Dari sekian banyak itu, kesemuanya adalah bibit dari degradasi moral bangsa Indonesia ini, termasuk pornografi dan pornoaksi tentunya. Lalu pertanyaannya.. apakah lantas cuma pornografi yang musti dibenahi berkaitan dengan moral bangsa? Apa iya jika UU Pornografi ini disahkan lantas bisa menurunkan level kebobrokan moral bangsa? Saya bisa jawab sekarang : TIDAK AKAN!

Ada anggapan bahwa semua masalah diatas itu sudah ada UU-nya dan hanya tinggal pornografi yang belum ada UU-nya. Saya sepakat akan hal itu, tapi saya pun sering dengar juga bahwa UU yang mengatur porno itu sudah ada, baik di UU penerbitan, UU penyiaran, UU Kekerasan anak dan wanita dll. Jikalau DPR menganggap kesemuanya tadi itu tidak berjalan, ya jelas aparatnya (sebagai penegak UU) yang musti lebih digiatkan bukan dengan jalan membuat UU baru. Jangan-jangan ketika UU pornografi ini masih tidak jalan karena aparatnya tetap mandul, lantas DPR membuat UU Pengawasan Jalannya UU Pornografi.

3. Mari Selamatkan Bangsa (bukan cuma moralnya)

Sedih rasanya melihat bangsa ini terus dan terus bertikai. Jika kita mau mensyukuri proses penyembuhan bangsa ini dari keterpurukan ekonomi 1998, maka kita sedang dalam tahap yang sedikit lagi akan sembuh. Namun nampaknya tahap atau fase ini disikapi dengan sinis oleh beberapa pihak. Perseteruan dan beda pendapat dijadikan mortir, masyarakat sengaja dibuat berseteru. Ini sangat melelahkan dan sangat menguras energi.

Bangsa ini makin terlihat bobrok moralnya saat berbicara moral. Ingin menegakkan moral tapi dengan cara-cara yang tak bermoral. Kata dan makna moral cuma dijadikan jargon saja. Sementara itu pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) cuma dijadikan cemooh dan di cap sebagai materi cuci otak Orde Baru. Sementara itu juga, pembangunan dan peningkatan pendidikan masih merayap menuju perbaikan. Bukan kah lebih baik jika DPR memperjuangkan sektor pendidikan? Baik itu pendidikan formal dan pendidikan agama? Bukan kah akan lebih baik jika pemerintah membuat Komisi Pengawas Moral Pejabat / Aparat? Tahun depan kita akan pemilu, tak lama lagi bangsa ini akan terpana lagi menyaksikan tontonan janji-janji capres dan caleg. Janji-janji indah dan menawan.. manis dan romantis.. Seakan-akan di nina-bobo-kan untuk tetap tidur saja. Bukankah moral-moral busuk ini yang mustinya diberantas demi menyelamatkan moral bangsa? Atau semua moral-moral busuk tadi berawal dari pornografi? Makanya UU Pornografi-lah yang musti lekas disahkan?

Mari kita selamatkan moral bangsa dari cara-cara tidak bermoral..

(Gambar : dari postingan gw yang dulu..)

Tuesday, September 9, 2008

Pernah tahu siapa orang dibalik suara khas trailler film?

Setelah sekian lama, akhirnya gua tahu siapa orang dibalik suara-suara khas trailler film.
Sayangnya dia baru saja wafat.. Ini merupakan respect gw terhadap dia.. SALUT Mr.Don!

Thanks Ipang!

Monday, September 1, 2008

Discovery Channel: I Love the World

Saya selalu suka melihat promo yang satu ini.. ternyata ada di YouTube



"I Love The World"

Full Credits

Client: Discovery Channel
Agency: 72andSunny
Creative Director: Glenn Cole
CD/Designer: Bryan Rowles
CD/Copywriter: Jason Norcross
Agency Executive Producer: Sam Baerwald
Agency Producer: Angelo Ferrugia
Production Company: Outsider
Director: James Rouse
Director of Photography: Max Goldman
Producer: Jeremy Barrett
Editorial Company: Mad River Post
Editor: Lucas Eskin
Producer (Editorial): Ann Kirk
VFX: Method
VFX/Online Artist: Alex Kolansinski
VFX Producer: Helena Lee
Music: Beacon Street Studios
Composer: Brian Chapman
Producer (Music): Adrea Lavezzoli
Sound Design: Lime Studios
Mixer: Loren Silber
Telecine: Company 3
Colorist: Stefan Sonnenfeld

Thanks Bang Poltak

Thursday, July 31, 2008

Kisah Kenangan Bau (Bau dan Memori Manusia)

Pernahkah dibayangkan jika kita nonton berita tentang ditemukan mayat akan tetapi disertai bau? Lalu saat melihat berita lain di TV tentang kecelakaan motor kita bisa menghirup bau bensin bercampur bau darah? Apa yang kita rasakan saat itu? Bagaimana peranan bau terhadap sensasi otak kita?

1. Hidung: Panca Indera Yang Terlupakan

Hidung adalah salah satu panca indera kita yang terlupakan dalam konteks perkembangan teknologinya. Sejak teknologi berkembang, manusia selalu mencoba menemukan alat-alat yang mampu menopang kekurangan kemampuan (keterbatasan) dari organ asli manusia. Kita semua tahu bahwa MATA dan TELINGA merupakan pance indera yang paling maju hubungannya dengan perkembangan teknologi. Kemampuan Mata sebagai indera "rupa" (visual) sudah dikenal lewat teknologi sejak lama. Apalagi sejak John Logie Baird menemukan televisi.

Sementara jauh sebelum teknologi visual, maka teknologi audio (rungu) lebih dulu ditemukan teknologinya oleh Alexander Graham Bell. Sejak itu, perkembagan kedua indera ini makin maju pesat seiring dengan kemajuan teknologi yang kemudian dikenal dengan teknologi audio-visual (AV) atau rupa-rungu.

Begitupun halnya dengan indera kulit (censoring) sebagai perasa suhu (temperature). Nah.. lantas bagaimana dengan indera penciuman? Hidung, merupakan indera penciuman yang hingga kini teknologi masih sulit untuk dikembangannya.

2. Bau Primer dan Bau Sekunder

Sekedar bergumam, gue ceritanya punya konsep yang sok-sok-an menghayal bebas dan liar seperti di film Star Trek. Yaitu tentang konsep bau dan hubungannya dengan teknologi.

Gue berfikir bau itu seperti warna, yakni mempunyai bau primer, bau sekunder, dan bau tersier. Konsep ini mirip dengan konsep warna primer, sekunder, dan tersier. Perpaduan bau-bau primer tadi akan menghasilkan bau sekunder dan seterusnya.

Ide ini gue lihat saat peracik parfum oplosan dengan mudah mencampur variasi-variasi bau untuk menemukan bau parfum merek tertentu. Secara prinsip gue rasa ini sama halnya dengan bau pada makanan (aroma), bau pada benda (odor), bau suasana (scent), atau pewangi tadi (fragrance).

Jadi misalnya (contoh) bahwa bau primer itu adalah BAU A, BAU B, dan BAU C. Lalu bau sekunder adalah BAU AaB, BAU CaB, BAU BbAC dan seterusnya.

Nah misalnya untuk bau durian, adalah perpaduan : 0,5 BAU C + 2,7 BAU BbAC + 7,3 BAU AaB = Bau Duren (harusnya ada kode tertentu untuk bau durian ini)

Kode dalam bau, yang gue bayangin ya sama dengan kode warna. Kode warna CMYK atau RGB atau HEXACOLOR dan seterusnya. Dengan konsep ini maka apapun bau bisa di-breakdown kode dasarnya dan bisa dibuat tiruannya.

3. Hubungan Bau dan Kenangan

Sadar tidak sadar bau sudah mempunyai peran besar dalam proses kenangan kita dan persepsi otak kita. Seberapa sering kita bisa menikmati sebuah film atau foto akan sebuah kejadian, lokasi dan tempat namun hal tersebut masih terasa kurang gairahnya karena kita kehilangan aroma dari suasana tersebut.

Contoh lain, saat kita masih kuliah atau dalam masa tertentu kita menggunakan parfum bermerek anu, nah setelah sekian lama dan kita mencium bau parfum anu tersebut kita bisa merasakan suasana dan kenangan pada masa-masa itu.

Yang paling terasa lagi adalah saat bau berkaitan dengan kejadian yang tidak nyaman. Contohnya saat kita mencium bau sedap malam plus melati. Rasanya memori kita langsung tertuju pada suasana pemakaman. Lalu bau kemenyan yang mengingatkan kita pada suasana di Bali. Nah.. gue pernah bongkar-bongkar gudang di mana gua menemukan kotak penyimpanan barang-barang rongsokan zaman gue masih SMP. Gue menemukan botol minyak wangi Garuda Airlines buatan Gondo Wangi Sariaji. Saat gw mencium ujung botol tersebut, seketika itu juga gue seperti sedang travelling back in time ke masa SMP. Cobain deh...

4. Masa Depan Bau

Lalu bagaimana bau dapat merubah kehidupan masa depan manusia? Jelas punya peranan yang sangat besar. Tentu penemuan alat perekam dan penyaji bau sangat dibutuhkan manusia di masa depan.

Bagaimana kita bisa tahu jika 20 tahun mendatang bunga melati akan musnah dari bumi dan anak cucu kita hanya tahu kisah melati tanpa tahu baunya seperti apa. Lalu bagaimana anak cucu kita bisa mencium bau rempah-rempah khas Indonesia, seperti jahe, kunyit dan seterusnya.

Konon manusia pernah ke bulan, tapi apakah mereka tahu bau hawa di bulan seperti apa? Padahal dengan bau, kita bisa menganalisa jenis bahan kimiawi yang terkandung dari bau tersebut.

Sebaliknya, di masa depan bukan tidak mungkin kita menonton film plus dengan bau artificial-nya. Jadi saat kita menonton film adegan di tepi pantai, penonton bisa mencium bau lautnya. Lalu saat kita menonton film horror, tentu akan makin merinding karena penonton bisa langsung mencium bau darah, bau bangkai, atau bau obat-obatan di rumah sakit.

Sebagai tambahan, pernahkan kita tahu bahwa seorang bayi bisa lekat dengan ibunya karena bau badan si ibu yang sudah lekat dikenali si bayi? Pernahkah kita dengar bahwa bau badan pria dan wanita punya sensasi sex tersendiri? Nah.. bagaimana perkembangan bau di masa depan? Kita tunggu saja.. :)

Foto : http://www.parentsbehavingbadly.com

Tuesday, July 22, 2008

The Dark Knight

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Setelah membaca sana-sini dari blog satu ke blog lain, dari resensi ini itu akhirnya gw nonton juga The Dark Knight (satu-satunya film Batman yang gak pake Batman di judulnya)

Khusus Dewasa

The Dark Knight (TDK), merupakan sebuah film yang menurut gw kategorinya noir atau dark film. Bukan sebuah film yang nampaknya diadaptasi dari komik, tapi lebih seperti adaptasi dari grafik novel. Ceritanya rumit dan penuh adegan yang gak pas buat ditonton anak-anak. Jadi.. ini bukan film buat anak-anak ya...

Seperti film sebelumnya Christopher Nolan tetap berpandangan bahwa kisah jagoan kelelawar ini lebih pas digarap dengan cerita dunia nyata dibanding super hero gaya komik. Semua adegan dan konfliknya seakan dibuat nyata. Ini pun nampak dari film Batman Begins, bagaimana kisah baju, mobil, dan batcave itu lahir. Di film ini, kemunculan para penjahat merupakan sebuah kunci dari ide cerita TDK.

Penjahat dan Pahlawan

Kenapa gw bisa bilang ini film bukan buat anak-anak? Salah satu alasannya adalah ide cerita dari film ini. Dalam film berbasis komik, penonton sudah diposisikan pada sebuah blokade, blok "penjahat" dan blok "pahlawan" (lebih enak disebut : jagoan). Sementara dalam TDK, ide cerita sepanjang film ini justru ingin menabrakkan konsep penjahat dan jagoan tadi. Penonton diajak menelusuri kasus demi kasus dengan membenturkan konsep siapa penjahat... dan siapa pahlawan. Konflik awalnya dengan mudah menggeret mafia sebagai musuh atau penjahat mutlak. Kebelakangnya, sulit buat dicerna mana konsep penjahat dan mana konsep pahlawan.

Seorang Jaksa Wilayah Harvey Dent, menjadi ikon pembolak-balikan konsep penjahat - pahlawan tadi. Lalu ada juga beberapa adegan yang sengaja ingin mengajak penonton beropini siapa itu warga dan siapa itu narapidana. Sang Batman pun terbawa dengan alur permainan konsep penjahat dan pahlawan ini. Joker dengan mudahnya menciptakan suasana bahwa hadirnya pahlawan tidak lain karena kehadiran seorang penjahat. Pertanyaannya, siapa yang mau menjadi penjahat sejati dan siapa yang mau menjadi pahlawan sejati? Batman-kah?

Siapa Penjahatnya

Di akhir film, gw teringat obrolan dengan seorang penari Bali yang tinggal di Hannover Jerman, dia menceritakan konsep leak bagi kepercayaan orang Bali. Gue rasa konsep ini sama banget dengan konsep cerita film TDK.

Joker hadir bukan sekedar sebagai penjahat, melainkan pelengkap kepahlawanan Batman. Ini bukan berarti Batman semata-mata sebagai pahlawan. Ia hanyalah manusia biasa yang mampu mengemas dirinya dengan gadget mutakhir hingga ia mampu menjadi penumpas kejahatan. Sebagai manusia, Batman pun dibenturkan dengan emosi, ambisi, dan kebingungan. Ini sangat manusiawi. Batman tidak bisa menhindari sifat-sifat tadi dengan alat-alat canggihnya.

Di dalam setiap diri manusia, pasti ada "kebaikan" dan "kejahatan". Mana yang dominan hanya itulah yang menjadikan karakter utama manusia itu. Seorang polisi bukan lah malaikat yang bisa tetap teguh berdiri di sisi kebaikan. Sementara seorang penjahat atau narapidana tidak berarti selalu berfikir untuk tetap berbuat jahat. Jika sudah demikian, siapa sebetulnya yang bisa memerangi kejahatan? dan siapa yang musti menciptakan kebaikan?

Sebuah pertanyaan yang agaknya sangat sulit jika musti dicerna oleh anak-anak. Ya.. balik lagi deh.. ini bukan film anak-anak.

Photo : YahooMovies