Monday, September 1, 2008

Discovery Channel: I Love the World

Saya selalu suka melihat promo yang satu ini.. ternyata ada di YouTube



"I Love The World"

Full Credits

Client: Discovery Channel
Agency: 72andSunny
Creative Director: Glenn Cole
CD/Designer: Bryan Rowles
CD/Copywriter: Jason Norcross
Agency Executive Producer: Sam Baerwald
Agency Producer: Angelo Ferrugia
Production Company: Outsider
Director: James Rouse
Director of Photography: Max Goldman
Producer: Jeremy Barrett
Editorial Company: Mad River Post
Editor: Lucas Eskin
Producer (Editorial): Ann Kirk
VFX: Method
VFX/Online Artist: Alex Kolansinski
VFX Producer: Helena Lee
Music: Beacon Street Studios
Composer: Brian Chapman
Producer (Music): Adrea Lavezzoli
Sound Design: Lime Studios
Mixer: Loren Silber
Telecine: Company 3
Colorist: Stefan Sonnenfeld

Thanks Bang Poltak

Thursday, July 31, 2008

Kisah Kenangan Bau (Bau dan Memori Manusia)

Pernahkah dibayangkan jika kita nonton berita tentang ditemukan mayat akan tetapi disertai bau? Lalu saat melihat berita lain di TV tentang kecelakaan motor kita bisa menghirup bau bensin bercampur bau darah? Apa yang kita rasakan saat itu? Bagaimana peranan bau terhadap sensasi otak kita?

1. Hidung: Panca Indera Yang Terlupakan

Hidung adalah salah satu panca indera kita yang terlupakan dalam konteks perkembangan teknologinya. Sejak teknologi berkembang, manusia selalu mencoba menemukan alat-alat yang mampu menopang kekurangan kemampuan (keterbatasan) dari organ asli manusia. Kita semua tahu bahwa MATA dan TELINGA merupakan pance indera yang paling maju hubungannya dengan perkembangan teknologi. Kemampuan Mata sebagai indera "rupa" (visual) sudah dikenal lewat teknologi sejak lama. Apalagi sejak John Logie Baird menemukan televisi.

Sementara jauh sebelum teknologi visual, maka teknologi audio (rungu) lebih dulu ditemukan teknologinya oleh Alexander Graham Bell. Sejak itu, perkembagan kedua indera ini makin maju pesat seiring dengan kemajuan teknologi yang kemudian dikenal dengan teknologi audio-visual (AV) atau rupa-rungu.

Begitupun halnya dengan indera kulit (censoring) sebagai perasa suhu (temperature). Nah.. lantas bagaimana dengan indera penciuman? Hidung, merupakan indera penciuman yang hingga kini teknologi masih sulit untuk dikembangannya.

2. Bau Primer dan Bau Sekunder

Sekedar bergumam, gue ceritanya punya konsep yang sok-sok-an menghayal bebas dan liar seperti di film Star Trek. Yaitu tentang konsep bau dan hubungannya dengan teknologi.

Gue berfikir bau itu seperti warna, yakni mempunyai bau primer, bau sekunder, dan bau tersier. Konsep ini mirip dengan konsep warna primer, sekunder, dan tersier. Perpaduan bau-bau primer tadi akan menghasilkan bau sekunder dan seterusnya.

Ide ini gue lihat saat peracik parfum oplosan dengan mudah mencampur variasi-variasi bau untuk menemukan bau parfum merek tertentu. Secara prinsip gue rasa ini sama halnya dengan bau pada makanan (aroma), bau pada benda (odor), bau suasana (scent), atau pewangi tadi (fragrance).

Jadi misalnya (contoh) bahwa bau primer itu adalah BAU A, BAU B, dan BAU C. Lalu bau sekunder adalah BAU AaB, BAU CaB, BAU BbAC dan seterusnya.

Nah misalnya untuk bau durian, adalah perpaduan : 0,5 BAU C + 2,7 BAU BbAC + 7,3 BAU AaB = Bau Duren (harusnya ada kode tertentu untuk bau durian ini)

Kode dalam bau, yang gue bayangin ya sama dengan kode warna. Kode warna CMYK atau RGB atau HEXACOLOR dan seterusnya. Dengan konsep ini maka apapun bau bisa di-breakdown kode dasarnya dan bisa dibuat tiruannya.

3. Hubungan Bau dan Kenangan

Sadar tidak sadar bau sudah mempunyai peran besar dalam proses kenangan kita dan persepsi otak kita. Seberapa sering kita bisa menikmati sebuah film atau foto akan sebuah kejadian, lokasi dan tempat namun hal tersebut masih terasa kurang gairahnya karena kita kehilangan aroma dari suasana tersebut.

Contoh lain, saat kita masih kuliah atau dalam masa tertentu kita menggunakan parfum bermerek anu, nah setelah sekian lama dan kita mencium bau parfum anu tersebut kita bisa merasakan suasana dan kenangan pada masa-masa itu.

Yang paling terasa lagi adalah saat bau berkaitan dengan kejadian yang tidak nyaman. Contohnya saat kita mencium bau sedap malam plus melati. Rasanya memori kita langsung tertuju pada suasana pemakaman. Lalu bau kemenyan yang mengingatkan kita pada suasana di Bali. Nah.. gue pernah bongkar-bongkar gudang di mana gua menemukan kotak penyimpanan barang-barang rongsokan zaman gue masih SMP. Gue menemukan botol minyak wangi Garuda Airlines buatan Gondo Wangi Sariaji. Saat gw mencium ujung botol tersebut, seketika itu juga gue seperti sedang travelling back in time ke masa SMP. Cobain deh...

4. Masa Depan Bau

Lalu bagaimana bau dapat merubah kehidupan masa depan manusia? Jelas punya peranan yang sangat besar. Tentu penemuan alat perekam dan penyaji bau sangat dibutuhkan manusia di masa depan.

Bagaimana kita bisa tahu jika 20 tahun mendatang bunga melati akan musnah dari bumi dan anak cucu kita hanya tahu kisah melati tanpa tahu baunya seperti apa. Lalu bagaimana anak cucu kita bisa mencium bau rempah-rempah khas Indonesia, seperti jahe, kunyit dan seterusnya.

Konon manusia pernah ke bulan, tapi apakah mereka tahu bau hawa di bulan seperti apa? Padahal dengan bau, kita bisa menganalisa jenis bahan kimiawi yang terkandung dari bau tersebut.

Sebaliknya, di masa depan bukan tidak mungkin kita menonton film plus dengan bau artificial-nya. Jadi saat kita menonton film adegan di tepi pantai, penonton bisa mencium bau lautnya. Lalu saat kita menonton film horror, tentu akan makin merinding karena penonton bisa langsung mencium bau darah, bau bangkai, atau bau obat-obatan di rumah sakit.

Sebagai tambahan, pernahkan kita tahu bahwa seorang bayi bisa lekat dengan ibunya karena bau badan si ibu yang sudah lekat dikenali si bayi? Pernahkah kita dengar bahwa bau badan pria dan wanita punya sensasi sex tersendiri? Nah.. bagaimana perkembangan bau di masa depan? Kita tunggu saja.. :)

Foto : http://www.parentsbehavingbadly.com

Tuesday, July 22, 2008

The Dark Knight

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Setelah membaca sana-sini dari blog satu ke blog lain, dari resensi ini itu akhirnya gw nonton juga The Dark Knight (satu-satunya film Batman yang gak pake Batman di judulnya)

Khusus Dewasa

The Dark Knight (TDK), merupakan sebuah film yang menurut gw kategorinya noir atau dark film. Bukan sebuah film yang nampaknya diadaptasi dari komik, tapi lebih seperti adaptasi dari grafik novel. Ceritanya rumit dan penuh adegan yang gak pas buat ditonton anak-anak. Jadi.. ini bukan film buat anak-anak ya...

Seperti film sebelumnya Christopher Nolan tetap berpandangan bahwa kisah jagoan kelelawar ini lebih pas digarap dengan cerita dunia nyata dibanding super hero gaya komik. Semua adegan dan konfliknya seakan dibuat nyata. Ini pun nampak dari film Batman Begins, bagaimana kisah baju, mobil, dan batcave itu lahir. Di film ini, kemunculan para penjahat merupakan sebuah kunci dari ide cerita TDK.

Penjahat dan Pahlawan

Kenapa gw bisa bilang ini film bukan buat anak-anak? Salah satu alasannya adalah ide cerita dari film ini. Dalam film berbasis komik, penonton sudah diposisikan pada sebuah blokade, blok "penjahat" dan blok "pahlawan" (lebih enak disebut : jagoan). Sementara dalam TDK, ide cerita sepanjang film ini justru ingin menabrakkan konsep penjahat dan jagoan tadi. Penonton diajak menelusuri kasus demi kasus dengan membenturkan konsep siapa penjahat... dan siapa pahlawan. Konflik awalnya dengan mudah menggeret mafia sebagai musuh atau penjahat mutlak. Kebelakangnya, sulit buat dicerna mana konsep penjahat dan mana konsep pahlawan.

Seorang Jaksa Wilayah Harvey Dent, menjadi ikon pembolak-balikan konsep penjahat - pahlawan tadi. Lalu ada juga beberapa adegan yang sengaja ingin mengajak penonton beropini siapa itu warga dan siapa itu narapidana. Sang Batman pun terbawa dengan alur permainan konsep penjahat dan pahlawan ini. Joker dengan mudahnya menciptakan suasana bahwa hadirnya pahlawan tidak lain karena kehadiran seorang penjahat. Pertanyaannya, siapa yang mau menjadi penjahat sejati dan siapa yang mau menjadi pahlawan sejati? Batman-kah?

Siapa Penjahatnya

Di akhir film, gw teringat obrolan dengan seorang penari Bali yang tinggal di Hannover Jerman, dia menceritakan konsep leak bagi kepercayaan orang Bali. Gue rasa konsep ini sama banget dengan konsep cerita film TDK.

Joker hadir bukan sekedar sebagai penjahat, melainkan pelengkap kepahlawanan Batman. Ini bukan berarti Batman semata-mata sebagai pahlawan. Ia hanyalah manusia biasa yang mampu mengemas dirinya dengan gadget mutakhir hingga ia mampu menjadi penumpas kejahatan. Sebagai manusia, Batman pun dibenturkan dengan emosi, ambisi, dan kebingungan. Ini sangat manusiawi. Batman tidak bisa menhindari sifat-sifat tadi dengan alat-alat canggihnya.

Di dalam setiap diri manusia, pasti ada "kebaikan" dan "kejahatan". Mana yang dominan hanya itulah yang menjadikan karakter utama manusia itu. Seorang polisi bukan lah malaikat yang bisa tetap teguh berdiri di sisi kebaikan. Sementara seorang penjahat atau narapidana tidak berarti selalu berfikir untuk tetap berbuat jahat. Jika sudah demikian, siapa sebetulnya yang bisa memerangi kejahatan? dan siapa yang musti menciptakan kebaikan?

Sebuah pertanyaan yang agaknya sangat sulit jika musti dicerna oleh anak-anak. Ya.. balik lagi deh.. ini bukan film anak-anak.

Photo : YahooMovies

Tuesday, June 3, 2008

Menjual Mimpi di Negeri Omong Kosong

Hidup Layak dan Normal

Sejak sering di rumah (kost), saya jadi sering menonton TV. Dari pagi hingga malam dan pagi lagi. Dari channel luar negeri, lokal, dan berbayar. Dari milis satu ke milis lain, dari kompas.com hingga detik.com. Semua bercerita tentang sebuah negeri yang sama bernama Indonesia. Sebuah negeri yang "katanya" sejahtera, merdeka, dan kaya-raya. Tapi penuh dengan derita, sengsara, nestapa, hingga pertikaian yang menyeramkan.

Setiap hari (setiap hari!) di hampir semua pemberitaan isinya cuma kekerasaan, pembantaian, kerusuhan, dan segala macam krisis yang siap menerkam kita semua di mana saja bahkan saat kita sedang tidur. Media pemberitaan berlomba-lomba menyapaikan berita yang paling menyeramkan pembaca atau pemirsanya. Makin tragis.. makin merasa laku dan rating tinggi. Makin berdarah-darah, makin punya tempat di hati pemirsanya.

Bagaimana dengan pemerintah dalam mengendalikan ini? Rasanya tidak mampu. Pemerintah masih asik berhitung dan berhitung akan dompetnya, pendapatan pajaknya, tagihan hutangnya, dan menerka-nerka siapa saja pejabatnya yang melarikan uangnya. Sementara itu makin masyarakat terus bertikai, masyarakat menengah ke bawah. Masyarakat atas.. tetap menjalankan hidup dengan normal-normal saja, belanja, beli bensin, shopping, jalan-jalan keluar negeri dst.

Rasanya wajar jika masyarakat level atas itu hidup dengan normal mengingat pendapatan yang mereka punya itu jauh dari kebutuhan kesehariannya. Namun menjadi tidak wajar jika kondisi tersebut menjadi keseharian para wakil-wakil rakyat. Ironis jika sebagai wakil rakyat tidak menunjukkan sikap prihatin dari kehidupan yang prihatin ini.

Menjual Harapan, Mimpi, dan Drama

Mayoritas masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan ini ternyata menjadi inspirasi bagi beberapa pihak untuk meraup keuntungan. Secara konsep marketing sikap ini adalah sikap jeli melihat peluang pasar, ya.. pasar yang sedang menderita dan siap mati lemas. Tapi, bisnis tidak memandang itu rupanya. Setiap hari kita sering sekali melihat IKLAN SMS untuk REG < spasi > dan seterusnya dari mulai sms kencan, sms cinta, sms perbaiki nasib, sms membaca tanggal lahir dst dst.

Dalam kasus ini, kita bisa melihat ada dua hal penting yang krusial, yaitu masalah ekonomi dan pendidikan. Agak sulit untuk bisa diterima dengan akal sehat jika perbaikan nasib kita itu bisa berubah hanya lewat SMS. Tapi ini menjelaskan bagaimana bangsa kita itu memang rendah tingkat pendidikannya. Hidup sulit dan mencekik ternyata menjadi mimpi buruk semua orang, dengan berharap mukjizat ya mereka iseng-iseng kirim SMS perbaikan nasib tersebut. Sayangnya mereka lupa kalau pulsa mereka itu dibeli dengan uangnya yang pas-pas-an.

Selain SMS, ada pula program TV yang jelas-jelas menjual mimpi. Mimpi menjadi artis, mimpi menjadi orang terkenal, menjadi anak teridola, anak terpandai berdakwah, dan seterusnya. Mereka tidak sadar kalau mereka-mereka itu hanya dijadikan OBYEK para station untuk meraup uang sposor dan komisi SMS. Fenomena menggunakan orang biasa sebagai talent di TV jelas mengurangi budget produksi. Jika dulu musti memakai talent fee, sekarang malah talent bonus jadi menggunakan talent-nya gratis tapi malah dapat uang.

TV cukup membuat program yang menyentuh, yup! menyentuh ibu-ibu rumah tangga dan pembantu.. karena mereka adalah pemirsa mayoritas secara jumlah penonton dan jumlah jam nonton yang dihabiskan. Dengan musik mendayu-dayu, dengan menampilkan adegan-adegan haru, dengan memunculkan anak atau orang tua yang miris, menampilkan orang cacat dst. Hanya demi jualan.. jualan TV terhadap sponsor.

Belum lagi sinetron, sudah banyak yang mengulas masalah ini tapi apa daya.. market demand lebih menjadi kendali bagi TV station untuk menjaga keberadaan sinetron di channel mereka. Kehidupan sinetron hanya kehidupan MIMPI, kehidupan andai-andai, dengan kata lain kehidupan DRAMA. Setiap kali kita menyaksikan sinetron, semua menampilkan sebuah konflik yang overated, berlebihan, dan terlalu dibesar-besarkan. Bagaimana seorang anak harus menghardik ibunya, bagaimana ayah membanting dan menampar anaknya, bagaimana kakak menyiksa adiknya, dst. Yang semua itu sudah menjadi rumus rating. Coba saja ajukan cerita sinetron yang baik-baik dan normatif.

Masyarakat kita sudah menjadi masyarakat drama, masyarakat yang kesehariannya sudah akrab dengan dunia drama di televisi. Kamera TV belakangan sudah akrab dengan keseharian masyarakat. Mereka sudah tidak lagi (berlebihan) jika di shoot oleh kamera, bahkan mereka sudah terbiasa untuk pura-pura acting! Ya.. ini lah drama!. Masyarakat nampaknya mulai menikmati bagaimana rasanya exist dan menjadi perhatian banyak orang. Selain meningkatkan adrenalin juga melatih rasa percaya diri mereka, sayangnya ini bukan menjurus ke hal produktif tapi malah kontra-produktif.

Di beberapa tayangan berita, kita sering melihat bagaimana masyarakat jika tahu sedang di shoot kamera maka mereka akan bertindak over-acting. Polisi saat menangkap sang tersangka pun terlihat jadi lebih gagah. Masyarakat saat membakar sebuah mesjid achmadiyah terlihat nampak lebih heroik. Bagaimana saat maling ditangkap semua orang di dalam kamera ingin terlihat pemberani. Celakanya, ini pun terjadi di para pejabat, ketika tahu media meliput kalau bisa mereka jualan pesona di sana.

Menuai Kebodohan dan Kemiskinan

Kita semua hidup di dalam keprihatinan, hidup krisis, dan keterbatasan. Ini punya dampak besar di kemudian hari. Kondisi yang ringkih ini nampaknya tidak terperhatikan oleh pemerintah. Pemerintah sedang asik dan sibuk mempersiapkan cara-cara, strategi, dan trik-trik untuk menghadapi PEMILU 2009. Bagaimana cara memperdaya masyarakat dengan janji-janji dan gombal-gombal mautnya. Masyarakat miskin merupakan masyarakat yang mudah untuk di stir. Saat dia benci tinggal kasih duit mereka akan cinta. Ironis.. sikap seperti demikian seharusnya dihapuskan, kenyataanya malah hidup subur di negeri ini. Masyarakat nampaknya sedang dipupuk agar tetap menjadi bodoh dan tidak kritis, sementara mahasiswa justru digosok agar nampak kritis tapi diarahkan kepada cara-cara yang vandal dan destruktif. Cara ini cukup efisien untuk membelah kekuatan antara mahasiswa dengan masyarakat. Sementara masyarakat tetap hidup normal dalam kebodohannya. Bodoh merupakan kata yang kasar. Bodoh di sini merupakan sebuah kondisi terkurung dari pendidikan dan pembelajaran. Makanya di lagu "Hymne Wajib Belajar" terdapat kalimat : "berantas kebodohan, perangi kemiskinan.." Tapi itu cuma lagu jaman Soeharto. Sayang sekali tidak dilanjutkan..

Sebagai penutup, sudah saat nya kita bisa saling mengingatkan kepada orang-orang terdekat kita untuk tetap membuka pikiran lebih jernih. Bangsa ini sedang sakit tapi tidak mau nampak sakit. Tetap nekad pake jas plus dasi padahal muka dan bibirnya jelas nampak pucat, rambut rontok dan batuk-batuk. Pemerintah negara ini ingin tampil gagah di atas kaki yang lumpuh. Singkat kata, pemerintah nampaknya lebih nyaman menjaga penampilan dibanding memperbaiki penyakit dalam. Ayo! jangan mau dibuai dengan mimpi dan janji-janji gombal..!

Wednesday, May 28, 2008

August Rush (2007 - DVD)

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Film dengan cerita musik memang sudah sering kita lihat. Musik sebagai dasar cerita, musik sebagai inspirasi cerita, musik sebagai konflik dan seterusnya. Di Indonesia pun ada beberapa film layar lebar yang mencoba mengambil musik sebagai ide ceritanya. Gue yakin pasti ide ini selalu dipandangan sebelah mata antara bisa jadi keren banget atau basi banget.

Belakangan gue gak sengaja menonton beberapa film yang berkaitan dengan musik, tapi gue gak bisa bilang ini film musikal. Pertama gw nonton film lama yang gak sengaja gw beli DVD-nya berjudul The Legend Of 1900" lalu gue nonton film August Rush. Dari kedua film tersebut, gue melihat bagaimana sebuah film mencoba menceritakan sebuah kisah humanis dengan konsep musik. Cinta merupakan sebuah nilai humanis yang universal dan unik. Ketika penggambarannya dituturkan lewat musik, tentu akan menjadikan emosi penonton larut dan hanyut dengan mudahnya.

August Rush menceritakan bagaimana cinta bisa hidup dan tumbuh lewat musik. Musik selalu menjadi paradigma. Konflik yang tidak terlalu rumit, alur yang sudah bisa ditebak, bukan itu goalnya. Tapi film ini hanya mencoba mengajak kita untuk bisa mendengarkan kisah romantis lewat alunan lagu.

Sementara The Legend Of 1900, merupakan sebuah film yang menurut gua dahsyat sekali ide ceritanya. Bagaimana sebuah musik mampu menjadikan jatidiri seseorang sejak kecil hingga dewasa. Bagaimana pula musik bisa menjadi bagian dari nafas dan darahnya. Lebih uniknya lagi.. cerita film ini lebih seperti sebuah legenda.

August Rush nampaknya tidak berupaya menjadikan film ini sebagai sebuah film yang penuh dengan kritik, analisa, komentar festival dll. Ini hanya film keluarga yang pas ditonton saat minggu siang.

Sementara The Legend Of 1900, merupakan film yang punya bobot untuk membuat kening penontonnya mengerenyit. Kedua film ini tidak bisa dibanding-bandingkan. August Rush merupakan bukti bagaimana Hollywood mengemas sebuah film tentang musik dengan ringan dan pola "jualan". Ini tidak terjadi di film 1900, secara sutradaranya pun Giuseppe Tornatore yang terkenal lewat film Cinema Paradiso.

Sekedar menambahkan, nikmati film August Rush.. lalu lanjutkan dengan The Legend Of 1900, jika ada kesempatan dan keberuntungan.. carilah film Dancer In The Dark, debut film Bjork yang buat gue merupakan sebuah film musik yang sangat sangat menyentuh dan noir.

Semoga dengan banyaknya film-film jenis ini, di Indonesia akan bermunculan film-film bertema musik yang lebih berbobot.

Monday, April 28, 2008

Email YAHOO pertama-ku : Unexpected Diary

Welcome to Yahoo! Mail

Your email address, motulz@yahoo.com, is now active and you can send and receive messages immediately!

Date: Sun, 10 May 1998 21:54:36 -0700 (PDT)
From:Send an Instant Message "Yahoo!" <mailbot@yahoo.com>
Subject: Welcome to Yahoo! Mail
To:motulz@yahoo.com

Gini nih.. kalo gak bisa tidur.. mulai suka cari kerjaan yang ngga-ngga.. Iseng bebersih mailbox YAHOO.. trus penasaran mo liat-liat email jaman dulu pertama bikin email di Yahoo.. hehehe.. lucu juga :D

Trus.. gw nemu beberapa email dari teman-temanku yang udah meninggal, lalu masa-masa ngeceng!! whuauhuahuhauahua... Trus masa-masa cari kerja.. masa-masa ngajak temen ke Jakarta.. nanya-nanya tentang kehidupan di Jakarta.. sampai email nyomblaingin temen gw yang sekarang mereka hidup bahagia dengan dua anaknya.

Wow!! Ini seperti unexpected diary... seru, lucu, menarik, dan juga sedih baca-bacanya :D

SO..tertarik buat buka-buka masa lalu kalian lewat mailbox??? hehehehe... share dong!!

-----

We'll keep you updated with all the newest features on Yahoo! Mail. Let us know if you have any questions or comments!

All the best,
The Yahoo! Mail Team.

P.S. If you're looking for help, click on our Help Desk


Tuesday, April 8, 2008

Indonesia Idle

Setelah membaca status teman saya (Intan), rasanya judul ini merupakan sebuah tagline yang menyindir sebuah kondisi bangsa kita saat ini.

1. Hidup Miskin di Negara Kaya

Sejak kita sekolah dasar kita tahu bahwa negara kita adalah negara yang kaya. Kaya akan luas wilayahnya, kaya akan sumber daya alamnya, perkebunan, tanah, laut, budaya, dan manusianya. Entah ini disadari atau tidak kenyataannya negara ini punya potensi kekayaan yang sangat bernilai.

Saya pernah mencoba membayangkan salah satu kekayaan negara ini yaitu saat teman saya (Hilman) bekerja di Freeport. Sebuah perusahaan tambang tembaga yang bisa kaya raya hanya karena menambang tembaga di Papua. Di Papua sana, ladang tembaga dan emas itu bukan digali di bawah tanah karena emas dan tembaga itu menyembul ke permukaan tanah berbentuk gunung! Gunung ini lah yang dikerok oleh penambang bertahun-tahun hingga akhirnya menjadi danau.

Contoh lain, saat saya ke Kalimantan. Saya melihat banyak sekali semak belukar kering itu terbakar. Ketika saya tanya ke supir yang orang sana, ia menceritakan bahwa di sini adalah ladang batu bara. Sama seperti kisah di Papua, bahwa batu bara di sana itu sudah menyembul ke permukaan tanah, karena terik matahari makanya suka terbakar.

Lain, tembaga, lain emas, lain batubara, minyak bumi, gas dan lain-lain merupakan sebuah berkah yang bernilai tinggi. Ini baru yang kita tahu saja, padahal di luar yang kita ketahui tentu masih banyak sekali pertambangan kekayaan SDA di tanah negara ini.

Akan tetapi, dalam kekayaan ini mengapa masih banyak masyarakat Indonesia harus mengantri untuk membeli minyak tanah? Sekolah masih mahal dan gedungnya ambruk.. kesehatan masih merupakan fasilitas ekslusif, makan, sandang, papan.. masih merupakan sebuah wacana sana-sini. Apa yang salah?

2. Ekonomi Makro = Ekonomi Kontra Rakyat

Sekian tahun kita merderka bangsa ini mengalami perjalanan pembangunan sekian lama. Saat ini kita memasuki masa-masa pembaharuan dan penuh harapan. Namun kondisi ini nampaknya tidak seimbang dengan kondisi masyarakat itu sendiri secara umum. Ada banyak sekali masyarakat yang masih berpendidikan di bawah rata-rata, masih buta pengentahuan dan logika, masih mudah mencerna semua berita apa adanya. Opini publik masih sangat mudah digiring ke sana-sini.

Perekonomian bangsa ini tercatat membaik secara makro, kenyataan di lapangan masyarakat kita masih susah mendapatkan makanan. Ini merupakan dilema. Indonesia merupakan negara fiskal, yaitu negara yang bergantung dari pemasukan finansial dan bisnis non riil. Ciri sebuah negara kapitalis yaitu bergantung kepada bisnis perbankan dibandingkan bisnis riil-nya. Bisnis yang mengambil keuntungan dari fiskal, finansial, saham, obligasi, valuta asing, dan sejenisnya. Ciri perekonomian ini memang tidak menyerap tenaga kerja yang banyak. Tidak heran jika akhirnya ada banyak sekali perusahaan yang merestrukturisasi pegawainya, dengan alasan efisiensi.

Pemerintah saat ini sedang mengejar "prestasi" perbaikan ekonomi makro. Sebuah parameter yang bisa dicapai dengan menstabilkan ekonomi secara makro. Tidak heran jika akhirnya pemerintah harus bermain dengan bunga bank, mencabut subsidi BBM, peningkatan index saham, stabiltas rupiah dan dollar, bahkan sampai "menjual" asset negara. Dengan cara-cara ini maka "catatan" perekonomian bangsa ini terlihat membaik. Sebaliknya kenyataan di masyarakat tidak demikian. Kenaikan BBM berdampak ke banyak aspek. Begitu pun daya beli masyarakat yang makin lemah.

3. Menjual Mimpi Lewat Media

Kondisi perekonomian masyarakat yang lemah ini sudah merebak ke berbagai pelosok negeri ini. Daya beli menurun, keuangan yang tipis, sulitnya lapangan pekerjaan, dan sikap pemerintah yang tidak peduli membuat masyarakat hidup bagaikan zombie. Bergerak ke sana ke sini tanpa tahu apa tujuannya dan tak mampu lagi berfikir.

Yang menyedihkan, kondisi ini malah dimanfaatkan oleh banyak media televisi sebagai sebuah TONTONAN. Sudah lama kita menyaksikan tayangan yang menjual mimpi. Bukannya memberikan solusi yang cerdas dan pasti malah memberikan sebuah harapan-harapn palsu yang hanya indah saat muncul di layar TV, padahal dibalik itu semua adalah sebuah bencana yang tertunda.

Reality Show, acara cari bintang lewat audisi, voting bintang lewat SMS, SMS Reg Spasi bla ..bla..bla.. Ramalan yang menjanjikan perbaikan hidup, dan masih banyak lagi. Ini semua merupakan sebuah produk jualan mimpi, tidak realistis. Tersentak saat membaca berita di Kompas bahwa ada banyak finalis calon bintang yang akhirnya strees, terlilit hutang, sakit jiwa, hingga meninggal. Siapa yang musti bertanggung jawab? Yang memprihatinkan lagi, saat ini jualan mimpi sudah merebak ke anak-anak. Bagaimana nasib anak-anak saat ini dijadikan "jualan" oleh orang tuanya. Dijanjikan akan menjadi terkenal dan digandrungi banyak orang. Inikah yang menjadi impian anak-anak saat ini? atau impian orang tuanya? Pernahkan terfikir oleh kita bahwa kelak ketika anak-anak ini selesai ikut acara demikian akan bisa menjaga stabilitas mentalnya saat bertemu dengan teman-teman sebayanya? Lantas.. coba buktikan bahwa dari sekian banyak peserta "jual mimpi" ini yang berhasil survive?

Mana KPI? mana kepedulian pemerintah?

4. Politik = Media Kekuasaan

Saya masih gak habis pikir melihat sikap pemerintah yang setengah-setengah. Saya gak yakin kalau pemerintah tidak punya staf ahli. Staf ahli, dari namanya saja sudah jelas bahwa mereka direkrut sebagai seseorang  yang memberikan nasihat, pandangan, analisa, dan solusi yang pas buat keputusan dan kebijakannya.

Masyarakat sebagai manusia tentu punya daya nalar selain daya pandang. Setiap hari kita melihat kondisi buruknya bangsa ini di depan mata kita. Kita melihat jalan rusak, sekolah ambruk, bayi gizi buruk, antrian BBM, dst. Masa iya para pejabat kita tidak lihat? Beneran tidak lihat? atau tidak mau lihat? Lantas, kalau kita sebagai masyarakat sudah bisa melihat lantas kita menggunakan nalar, masa iya setingkat staf ahli dan menteri tidak punya nalar? Rasanya gak mungkin.

Namun, ternyata begitu lah adanya. Seorang yang diharapkan punya kemampuan melihat kondisi masyarakat, mampu menganalisa, mampu mencari solusi, dan mampu mengambil tindakan, ternyata cuma isapan jempol belaka. Mereka tidak mampu melakukan itu semua. Siapa yang salah? Apakah salah masyarakat kita yang bodoh tadi karena memilih mereka sebagai wakil rakyat? Saya punya pandangan lain atas hal ini

Pemerintah saat ini selalu menjual nama demokrasi dan pemungutan suara. Sayangnya  kita lupa bahwa mayoritas masyarakat Indonesia itu masih belum bisa dikategorikan pandai dan sadar dengan apa yang dia pilih. Baginya mereka pilihan hayalah cuma penjoblosan. Tak perlu tahu apa itu konsep, apa itu pandangan, dan visi dari calon yang dipilihnya. Yang akhirnya suara mereka ini merupakan suara BONUS bagi calon yang menang.

Contohnya, bayangkan kita menjadi RW di sebuah kampung. 70% warga kampung kita adalah warga berpendidikan SD, 20% gak sekolah, 10% lulusan universitas. Dalam mengambil keputusan bersama warga kampung kita melakukan pemungutan suara. Apa yang akan terjadi? Suara siapa yang akan menjadi mayoritas? Apakah  ini kondisi masyarakat bodoh yang memang sengaja dibuat oleh pemerintah?

5. Konspirasi Praktik

Kondisi negara kita yang nampaknya membaik dan maju ini ternyata hanyalah ilusi belaka. Bangsa ini sedang jalan di tempat (idle), seperti bergeser sebetulnya tidak bergerak sama sekali. Untuk sebagian orang mungkin iya, sementara untuk sebagian pejabat mereka jalan cepat.. tapi untuk kebanyakan (mayoritas) masyarakat ternayat hanya diam saja.

Kondisi ini bukan sebuah kebetulan, melainkan sebuah hasil kerja. Hasil kerja para pejabat negeri ini. Mereka melakukan pemikiran untuk melakukan ini, direncanakan, dipoles dengan jargon-jargon indah, lantas diaplikasikan ke masyarakat. Ketika masyarakat menjerit mereka ya diam saja. Ini merupakan praktik politik yang berjalan dengan mulus. Bukan cuma konspirasi teori melainkan sudah konspirasi praktik. Bagaimana kekuasaan itu bisa dibeli dengan uang. Ini bukan rahasia lagi. Silakan bagi yang punya uang banyak daftar sebagai anggota parpol, silakan tabung uang lagi untuk bisa masuk calon legislatif, silakan menabung uang lagi untuk bisa mencalonkan menjadi menteri. Semua ini bisa dijalani dengan tenang dan normal-normal saja. Sebuah kerjasama yang utuh dari level rendah hingga level paling tinggi sekalipun. Saat mereka menjabat kelak, apa iya mereka akan peduli dengan kepentingan rakyat? Silakan dijawab sendiri..

Bagaimana andil kita?